Desahan Dalam Mobil

Nama saya Citra (samaran), dan saya adalah mahasiswa semester 5 di salah satu universitas swasta ternama di bilangan Jakarta Pusat , dan apa yang akan saya ceritakan disini adalah kisah yang terjadi sekitar beberapa tahun yang lalu.

Hari Rabu adalah hari yang paling melelahkan bagiku ketika semester lima, bagaimana tidak, hari itu aku ada tiga mata kuliah, dua yang pertama mulai jam 9 sampai jam tiga dan yang terakhir mulai jam lima sampai jam 7 malam, belum lagi kalau ada tugas bisa lebih lama deh. Ketika itu aku baru menyerahkan tugas diskusi kelompok sekitar jam 7 lebih. Waktu aku dan teman sekelompokku, si Dimas selesai, di kelas masih tersisa enam orang dan Pak Didi, sang dosen.

"Bareng yuk jalannya, parkir dimana Citra ?" ajak Dimas "Jauh nih, di deket psikologi, rada telat sih tadi"

Dimas pulang berjalan kaki karena kostnya sangat dekat dengan kampus. Sebenarnya kalau menemaniku dia harus memutar agak jauh dari jalan keluar yang menuju ke kostnya, mungkin dia ingin memperlihatkan naluri prianya dengan menemaniku ke tempat parkir yang kurang penerangan itu. Dia adalah teman seangkatanku dan pernah terlibat one night stand denganku. Orangnya sih lumayan cakep dengan rambut agak gondrong dan selalu memakai pakaian bermerek ke kampus, juga terkenal sebagai buaya kampus.


Malam itu hanya tinggal beberapa kendaraan saja di tempat parkir itu. Terdengar bunyi sirine pendek saat kutekan remote mobilku. Akupun membuka pintu mobil dan berpamitan padanya. Ketika aku menutup pintu, tiba-tiba aku dikejutkan oleh Dimas yang membuka pintu sebelah dan ikut masuk ke mobilku.

Balada Cinta Seorang Napi

Hari itu Warso dipanggil oleh sipir penjara ,karena ada suatu keperluan yang amat penting. Lalu iapun menerima surat pembebasan yang jatuh pada hari itu.. Ia amat gembira dan sangat bahagia sebab ia akan bebas dan bisa menentukan arah dan sisa hidup selanjutnya. Meski saat itu usianya menginjak 60 tahun.

Setelah meninggalkan penjara itu iapun melangkahkan kaki menuju rumah temannya yang telah bebas lebih dulu darinya yang berada di kota Solo itu untuk menemui Gondo. Gondo adalah sahabatnya saat di penjara yang telah dahulu bebas. Ia menemui Gondo karena dijanjikan untuk bekerja sebagai penarik becak dikota itu. 

Kebetulan Gondo amat dekat dengan Warso. Tidak lama kemudian Warsopun bertemu Gondo yang rumahnya tidak terlalu sulit ia temukan. Keesokan harinya iapun mulai bekerja menarik becak meskipun masih terbatas daerahnya. Saat menarik becak itu, naas menimpanya, tanpa disangka iapun ditabrak sebuah sedan dan tubuhnya terpelanting kejalan sedangkan becaknya rusak. Untunglah pengemudi sedan itu mau bertanggung jawab. 


 

Warso dibawanya ke rumah sakit terdekat dan ditanggung biaya pengobatannya juga segala kerusakan becaknya. Akhirnya setelah Warso sehat dan ia tidak terluka parah iapun ditawari si pengemudi itu untuk bekerja di perusahaannya sebagai sopir karena Warso juga bisa mengemudikan mobil. Untuk itulah akhirnya Warso bisa bekerja pada pria itu yang ia ketahui namanya Indra.

Dokter Sandra Yang Sexy

San... hei aku jaga nich malam ini, elu jangan kirim pasien yang aneh-aneh ya, aku mau bobo, begitu pesanku ketika terdengar telepon di ujung sana diangkat.
"Udah makan belum?" suara merdu di seberang sana menyahut.
"Cie... illeee, perhatian nich", aku menyambung dan, "Bodo ach", lalu terdengar tuutt... tuuuttt... tuuut, rupanya telepon di sana sudah ditutup.

Malam ini aku dapat giliran jaga di bangsal bedah sedangkan di UGD alias Unit Gawat Darurat ada dr. Sandra yang jaga. Nah, UGD kalau sudah malam begini jadi pintu gerbang, jadi seluruh pasien akan masuk via UGD, nanti baru dibagi-bagi atau diputuskan oleh dokter jaga akan dikirim ke bagian mana para pasien yang perlu dirawat itu.

Syukur-syukur sih bisa ditangani langsung di UGD, jadi tidak perlu merepotkan dokter bangsal. dr. Sandra sendiri harus aku akui dia cukup terampil dan pandai juga, masih sangat muda sekitar 28

Gairah Rosa Dan Cermin Antik

Rosa masih memandang-mandang dirinya sendiri di depan sebuah cermin antik. Cermin peninggalan neneknya. Sebuah cermin bergaya klasik dari kayu berukir dan disepuh warna emas. Ketika Rosa masih kanak-kanak, ia sering berkaca di depannya sambil menirukan kata-kata dalam legenda Putri Salju.

"Mirror mirror on the wall.. Siapakah yang tercantik didunia ini?"

Namun sayang, jawaban yang ia harapkan tak pernah didapatkannya. Cermin itu selalu diam membisu. Yang ia dapatkan hanya pantulan wajah wanita, ya wajah Rosa sendiri yang terlihat murung. 



Makin lama ia memandang cermin itu, makin jauh pikirannya membayangkan Abi Kakak iparnya. Ada perasaan gundah kala ia mengingat Kakak iparnya itu. Berkali-kali ia merenungkan apa yang dikatakan Abi kepadanya.

"Ros, aku mencintaimu melebihi siapapun didunia ini."

Cewek Cafe Matahari Terbit

Sore itu aku berencana mau pergi ke Matahari Departemen Store berbelanja untuk keperluan seminggu, sambil jalan-jalan cuci mata, pukul 20.00 aku telpon Adi, pemuda tampan untuk mengantarku kesana, lama aku sudah menunggu tapi pria idamanku namun setelah satu jam akhirnya nongol juga. Tanpa aku sadari dia nyelonong masuk tanpa permisi ke kamar kosku yang sempit, akupun terkesiap dari lamunanku, jantungku berdebar mengingat baru seminggu lalu teman disebelahku dianiaya para perampok tak bertanggungjawab.

Seketika hatiku tenang setelah Adi ada disampingku sembari berkata; "gimana jadi ngak", akupun menyahut; "jadi dong, tapi mas Adi mandi dulu dan pakaian seragamnya diganti dengan baju kaosku". "OK", kata mas Adi, diapun berlalu memasuki kamar mandi.Namun belum ada lima menit di kamar mandi, Adi bergegas membuka pintu kamar mandi dan merangkulku dari belakang sehingga dandananku jadi tak karuan, ternyata barangnya Adi mau minta aku punya maklum sudah dua minggu dia tak dapat jatah karena dia adalah anggota kelompok gigolo yang paling muda, jadi dia kebanyakan mengalah untuk bisa kencan dengan aku.


Adi mulai mencium tengkukku penuh nafsu, aku membalikan badanku tapi Adi menyerudukku dan menekan dengan badannya yang bidang, dia mulai menciumku terasa hangat melekat dibibirku, tangannya mulai mengerayangi buah dadaku yang berukuran sepuluh jari penuh dan memelintir puting susuku. Diam - diam aku mulai menikmatinya.

"Sus, sudah lama aku ingin berduaan denganmu", katanya berterus terang. hatiku tersentak juga, padahal selama ini aku tak berprasangka apapun pada Adi, kemudian ia mulai membuka kaosnya. Tampak tubuhnya yang atletis dan dadanya yang bidang. lalu ia pun mulai melucuti celana pendeknya dan, astaga... ternyata dia tidak memakai celana dalam.

Pantas saja tadi aku merasakan kontolnya yanng besar itu tergesek-gesek di pantatku. "Kamu mau ini, Sus?" tanyanya,"ayo, cobain aja, kamu kan belon pernah nyobain yang beginian, kan? Adi menuntun kepalaku ke bawah.

"Ayo' hisaap, Sus...." aku terpaksa membuka mulutku. dengan gemetaran, aku mulai memasukkan kontol Adi yang kira-kira berukuran 21 cm itu."uuukhhh....rasanya mo muntah,"kataku"ngak apa-apa, Sus, ayo terus kulum semuanya."

Mulutku terasa penuh disumbat oleh kontol Adi. baru kali ini aku melihat dan langsung merasakan kontol cowok yang amat super panjang dan besar itu. hendra menjambak rambut belakangku, kemudian pantatnya digoyangkan maju mundur , ke kiri dan kanan. lalu aku disuruhnya berdiri. dengan cepat dicopotnya kaos dan kolorku. Adi terpana demi melihat buah dadaku yang berukuran 10 jari penuh.

Dijilatinya buah dadaku, aku merasakan geli tapi nikmat. tangan kirinya mempermainkan pentil susuku dan tangan kanannya mempermainkan pepekku yang telah dari tadi basah, lantas dimasukannya barangnya yang berukuran super itu, maju mundur terus menerus yang mana setelah kuhitung Adi melakukannya sebanyak seribu enam kali, tiba-tiba.............

"Oooogh...Sus, terussssssss...." aku merasakan ada yang mo keluar dari dalam kontolku." Sus...aku sudah mo kkkkeluuuuuuuuaar...". tiba-tiba Adi menghentikan rangsangannya. kami berganti posisi 69. kini aku mulai mengghisap dan menciumi punya Adi.

Terus saja kukulum dan kujilati semuanya, dari kepala, batang, dan buah pelernya ke batangnya lagi begitu seterusnya.... Dalam hati aku senang juga, tak menyangka kalo main sama Adi ternyata enak juga."jack.....aku udaaaah ngggaaaak taaaahhhannnn...." kemudian menyemprotlah pejuh Adi ke wajahku mulai dahi, pipi, hingga bibirku.

"Maapin gua Sus..." kata Adi sambil merebahkan tubuhnya yang terkulai lemas, akhirnya kami berdua tidur lelap sampai esok paginya, ngak jadi pergi ke matahari, Adi pun lantas pergi ke kantor karena dia harus nyemput tamu dengan pesawat SQ 142.

Bagi teman-teman club gigolo terimakasih atas bantuannya semenjak saya ngak masih kerja di cafe bilangan matahari terbit, Thanksssssssssss.

Gairah Sahabat Temanku

Namaku Andhika, aku seorang siswa Kelas 1 di SMU yang cukup top di kota Makassar. Pada hari itu aku ingin mengambil tugas kimia di rumah salah satu teman cewekku, sebut saja Rina. Di sana kebetulan aku ketemu sahabat Rina. Kemudian kami pun berkenalan, namanya Laura, orangnya cukup cantik, manis, putih dan bodinya sudah seperti anak kelas 3 SMU, padahal dia baru kelas 3 SMP. Pakaian sekolahnya yang putih dan agak kekecilan makin menambah kesan payudaranya menjadi lebih besar. Ukuran payudaranya mungkin ukuran 32B karena seakan akan baju seragam SMP-nya itu sudah tidak mampu membendung tekanan dari gundukan gunung kembar itu.

Kami saling diam, hanya aku sedang mengamati dadanya dan pantatnya yang begitu montok. Wah serasa di langit ke-7 kali kalau aku bisa menikmati tubuh cewek ini, pikirku. Terkadang mata kami
bertemu dan bukannya ke GR-an tapi aku rasa cewek ini juga punya perasaan terhadapku. Setelah satu jam berada di rumah Rina, aku pun berpamitan kepada Rina tetapi dia menahanku dan memintaku mengantarkan Laura pulang karena rumahnya agak jauh dan sudah agak sore dan kebetulan aku sedang bawa "Kijang Rangga" milik bapakku.

Akhirnya aku menyetujuinya hitung-hitung ini kesempatan untuk mendekati Laura. Setelah beberapa lama terdiam aku mengawali pembicaraan dengan menanyakan, "Apa tidak ada yang marah kalau aku antar cuma berdua, entar pacar kamu marah lagi..?" pancingku. Dia cuma tertawa kecil dan berkata, "Aku belum punya pacar kok." Secara perlahan tangan kiriku mulai menggerayang mencoba memegang tangannya yang berada di atas paha yang dibalut rok SMP-nya. Dia memindahkan tangannya dan tinggallah tanganku dengan pahanya.

Tanpa menolak tanganku mulai menjelajah, lalu tiba-tiba dia mengangkat tanganku dari pahanya, "Awas Andhi, liat jalan dong! entar kecelakan lagi.." dengan nada sedikit malu aku hanya berkata, "Oh iya sorry, habis enak sih," candaku, lalu dia tersenyum kecil seakan menyetujui tindakanku tadi. Lalu aku pun membawa mobil ke tempat yang gelap karena kebetulan sudah mulai malam, "Loh kok ke sini sih?" protes Laura. Sambil mematikan mesin mobil aku hanya berkata,

"Boleh tidak aku cium bibir kamu?"
Dengan nada malu dia menjawab,
"Ahh tidak tau ahh, aku belum pernah gituan."
"Ah tenang aja, nanti aku ajari," seraya langsung melumat bibir mungilnya.

Dia pun mulai menikmatinya, setelah hampir lima menit kami melakukan permainan lidah itu. Sambil memindahkan posisiku dari tempat duduk sopir ke samping sopir dengan posisi agak terbungkuk kami terus melakukan permainan lidah itu, sementara itu dia tetap dalam posisi duduk. Lalu sambil melumat bibirnya aku menyetel tempat duduk Laura sehingga posisinya berbaring dan tanganku pun mulai mempermainkan payudaranya yang sudah agak besar, dia pun mendesah, "Ahh, pelan-pelan Andhi sakit nih.." Kelamaan dia pun mulai menyukaiku cara mempermainkan kedua payudaranya yang masih dibungkus seragam SMP.

Mulutku pun mulai menurun mengitari lehernya yang jenjang sementara tanganku mulai membuka kancing baju seragam dan langsung menerkam dadanya yang masih terbungkus dengan "minishet" tipis serasa "minishet" bergambar beruang itu menambah gairahku dan langsung memindahkan mulutku ke dadanya.

"Lepas dulu dong 'minishet'-nya, nanti basah?" desahnya kecil.
"Ah tidak papa kok, entar lagi," sambil mulai membuka kancing "minishet", dan mulai melumat puting payudara Laura yang sekarang sedang telanjang dada.Sementara tangan kananku mulai mempermainkan lubang kegadisannya yang masih terbungkus rok dan tanganku kuselipkan di dalam rok itu dan mulai mempermainkan lubangnya yang hampir membasahi CD-nya yang tipis berwarna putih dan bergambar kartun Jepang.

Mulutku pun terus menurun menuju celana dalam bergambar kartun itu dan mulai membukanya, lalu menjilatinya dan menusuknya dengan lidahku. Laura hanya menutup mata dan mengulum bibirnya merasakan kenikmatan. Sesekali jari tengahku pun kumasukkan dan kuputar-putarkan di lubang kewanitaannya yang hanya ditumbuhi bulu-bulu halus. Dia hanya menggenggam rambutku dan duduk di atas jok mobil menahan rasa nyeri.

Setelah itu aku kecapaian dan menyuruhnya, "Gantian dong!" kataku. Dia hanya menurut dan sekarang aku berada di jok mobil dan dia di bawah. Setelah itu aku menggenggam tangannya dan menuntunnya untuk mulai membuka celana "O'neal"-ku dan melorotkannya. Lalu aku menyuruhnya memegang batang kemaluanku yang dari tadi mulai tegang.

Dengan inisiatif-nya sendiri dia mulai mengocok batang kemaluanku.
"Kalau digini'in enak tidak Andhi?" tanyanya polos.
"Oh iya enak, enak banget, tapi kamu mau nggak yang lebih enak?" tanyaku.
Tanpa berbicara lagi aku memegang kepalanya yang sejajar dengan kemaluanku dan sampailah mulutnya mencium kemaluanku. "Hisap aja! enak kok kayak banana split," dia menurut saja dan mulai melumat batang kemaluanku dan terkadang dihisapnya. 

Karena merasa maniku hampir keluar aku menyuruhnya berhenti, dan Laura pun berhenti menghisap batang kemaluanku dengan raut muka yang sedikit kecewa karena dia sudah mulai menikmati "oral seks". Lalu kami pun berganti posisi lagi sambil menenangkan kemaluanku. Dia pun kembali duduk di atas jok dan aku di bawah dengan agak jongkok. 

Kemudian aku membuka kedua belah pahanya dan telihat kembali liang gadis Laura yang masih sempit. Aku pun mulai bersiap untuk menerobos lubang kemaluan Laura yang sudah agak basah, lalu Laura bertanya, "Mau dimasukin tuh Andhi, mana muat memekku kecilnya segini dan punyamu segede pisang?" tanyanya polos. "Ah tenang aja, pasti bisa deh," sambil memukul kecil kemaluannya yang memerah itu dan dia pun sendiri mulai membantu membuka pintu liang kemaluannya, mungkin dia tidak mau ambil resiko lubang kemaluannya lecet.

Secara perlahan aku pun mulai memasukan batang kemaluanku, "Aah.. ahh.. enak Andi," desahnya dan aku berusaha memompanya pelan-pelan lalu mulai agak cepat, "Ahh.. ahh.. ahh.. terus pompa Andi." Setelah 20 menit memompa maniku pun sudah mau keluar tapi takut dia hamil lalu aku mengeluarkan batang kemaluanku dan dia agak sedikit tersentak ketika aku mengeluarkan batang kemaluanku.

"Kok dikeluarin, Andi?" tanyanya.
"Kan belum keluar?" tanyanya lagi.
"Entar kamu hamilkan bahaya, udah nih ada permainan baru," hiburku.
Lalu aku mengangkat badannya dan menyuruhnya telungkup membelakangiku.
"Ngapain sih Andi?" tanya Laura.
"Udah tunggu aja!" jawabku.
Dia kembali tersentak dan mengerang ketika tanganku menusuk pantat yang montok itu.
"Aahh.. ahh.. sakit Andhi.. apaan sih itu..?"
"Ah, tidak kok, entar juga enak."
Lalu aku mengeluarkan tanganku dan memasukkan batang kemaluanku dan desahan Laura kali ini lebih besar sehingga dia menggigit celana dalamku yang tergeletak di dekatnya.

"Sabar yah Sayang! entar juga enak!" hiburku sambil terus memompa pantatnya yang montok. Tanganku pun bergerilya di dadanya dan terus meremas dadanya dan terkadang meremas belahan pantatnya. Laura mulai menikmati permainan dan mulai mengikuti irama genjotanku. "Ahh terus.. Andhi.. udah enak kok.." ucapnya mendesah. 

Setelah beberapa menit memompa pantatnya, maniku hendak keluar lagi. "Keluarin di dalam aja yah Laura?" tanyaku. Lalu dia menjawab, "Ah tidak usah biar aku isep aja lagi, habis enak sih," jawabnya. Lalu aku mengeluarkan batang kemaluanku dari pantatnya dan langsung dilumat oleh Laura langsung dihisapnya dengan penuh gairah, "Crot.. crot.. crot.." maniku keluar di dalam mulut Laura dan dia menelannya. Gila perasaanku seperti sudah terbang ke langit ke-7.
"Gimana rasanya?" tanyaku.
"Ahh asin tapi enak juga sih," sambil masih membersihkan mani di kemaluanku dengan bibirnya.

Setelah itu kami pun berpakaian kembali, karena jam mobilku sudah pukul 19:30. Tidak terasa kami bersetubuh selama 2 jam. Lalu aku mengantarkan Laura ke rumahnya di sekitaran Panakukang Mas. Laura tidak turun tepat di depan karena takut dilihat bapaknya. Tapi sebelum dia turun dia terlebih dahulu langsung melumat bibirku dan menyelipkan tanganku ke CD-nya. Mungkin kemaluannya hendak aku belai dulu sebelum dia turun. "Kapan-kapan main lagi yach Andhi!" ucapnya sebelum turun dari mobilku. 

Tapi itu bukan pertemuan terakhir kami karena tahun berikutnya dia masuk SMU yang sama denganku dan kami bebas melakukan hal itu kapan saja, karena tampaknya dia sudah ketagihan dengan permainan itu bahkan Laura pernah melakukan masturbasi dengan pisang di toilet sekolah. Untung aku melihat kejadian itu sehingga aku dapat memberinya "jatah" di toilet sekolah.

Berbagi Kebahagiaan Dengan Kenalan Baru

Aku akan menceritakan kisahku yang lain. Tentu para netters masih ingat dengan kisahku berjudul “PETUALANGAN DENGAN PACAR”, dimana aku dan ALAN pacarku melakukan ML- di sofa ruang tamuku kala rumah kosong. Sebenarnya bukan hanya itu aja pengalamanku dengannya, banyak kisah asmara kami yang lain. Tapi itu hanya tinggal kenangan. Sekarang aku putus dengannya, kami merasa sudah tidak cocok satu sama lain. Kami putus baik-baik. kali ini aku akan menceritakan pengalaman MLku yang lain.

Namaku Aliah. Umurku belum genap 20 tahun. Aku dikarunia wajah yang cantik dan tubuh yang sexy. Hal itu karena aku rajin merawat tubuh dan penampilanku. Fitness,olahraga dan kesalon adalah rutinitasku. Aku cukup bangga dengan payudaraku yang berukuran lumayan besar. Aku suka sekali bercermin dengan telanjang sambil memperhatikan dan mengagumi dadaku. Alan (mantanku) sangat tergila-gila akan gumpalan daging didadaku. 



Dulu ketika kami masih pacaran, setiap kali bertemu dia pasti meremas-remas dadaku, memilinnya bahkan tidak takut-takut untuk melumat dan menjilatinya. Aku sih menikmatinya saja. Toh dia cowoku. Tapi setelah putus dengannya aku ga bisa lagi merasakan kehangatan yang dulu sering kami nikmati bersama. Aku harus terbiasa dengan masturbasi jika libidoku menyerang. Aku bukan cewe yang progresif yang dengan mudah mengajak orang lain bercinta denganku. Aku masih bisa mengendalikan diriku.

Tapi terus terang aku sangat menyesal putus dengan cowo seganteng Alan. Tapi aku ga mau terus-menerus bersedih, aku sebisa mungkin menjauhi hal-hal yang bisa mengingatkanku dengannya, yakni dengan jalan bareng dengan teman-temanku, nonton, makan coklat dan ke Diskotik. Aku kediskotik biasanya tiap malan minggu bareng teman-temanku, tapi kalo BT abis tak jarang aku sendiri.

Hari itu hari selasa, aku melihat roster kuliahku, besok hanya ada satu mata kuliah yakni jam 3 sore. Maka kuputuskan untuk pergi kediskotik sekedar having fun saja. Tapi semua teman yang kuajak satupun ga ada yang bisa dengan alasan besok kuliah pagi, maka terpaksa aku pergi sendiri.

Maka kugunakan gaun yang kubeli tadi siang dari mall. Gaun itu cukup sexy dengan belahan dada yang rendah dan ketat. Ketatnya gaun tersebut mengakibatkan tonjolan didadaku semakin menonjol. Dapat kulihat putingku menonjol disana. Selain itu Hanya ada 2 buah tali di pundakku yang menyagganya agar tidak jatuh. Hal itu tentu memamerkan lenganku yang putih mulus. Gaun itu hanya sebatas lutut, sehingga betis mulusku dapat dinikmati setiap orang yg melihat. Aku memperhatikan penampilanku di cermin. Sexy sekali pikirku. Aku sangat percaya diri sekali.

Maka segera kukendarai mobilku ke diskotik "F" favoritku. Baru aku menginjakan langkahku di dalam, aku disambut dengan dentuman musik house. Diskotik itu tidak terlalu ramai, maklum bukan "peak time". Aku mengambil tempat dipojok agar aku bisa melihat kesekeliling. Aku mulai terbawa suasasa. DJnya sangat pintar memilih lagu. Segera kupesan minuman favoritku dan langsung kutegak sampai habis. Badanku terasa hangat. Aku lalu bergabung dngan yang lain yang sedang menikmati suasana malam itu. Aku menggoyang-goyangkan tubuhku kesana-kemari. Aku tidak memperdulikamn tatapan liar lelaki disekitarku, malah aku main menikmatinya.

Setelah cape aku kembali ketempat dudukku dan memesan minuman lagi. Dan langsung kutegak juga untuk mengurangi rasa aus ditenggorokanku. Tiba-tiba seorang cowo menghampiriku.

"Boleh duduk disini?" tanyanya sopan sambil menunjuk kursi didepanku. Aku menatap laki-laki itu, dia tersenyum memamerkan giginya yang putih bersih. Dari stelan pakaian yang digunakannya dapat kutebak kalo dia orang yang cukup berada. Mungkin eksekutif muda.
"Silahkan" jawabku tidak keberatan, karena memang aku butuh teman malam itu. Orangnya cukup ganteng dan tinggi. Walau lampu remang-remang aku masih bisa melihat kumisnya yang baru dicukur sehingga meninggalkan sisa-sisa kumis yang tipis. So gentlemen batinku. Aku tersenyum hangat juga kedia.

"Kamu sendirian ya?" tanyanya membuyarkan lamunanku. Aku hanya mengangguk sambil meminum habis sisa minumanku. Dia memperhatikan caraku menegak munuman.
"Boleh kutraktir minum?" tanyanya lagi, tanpa menungu persetujuanku dia segera memanggil pelayan dan memesan minuman.

"Nama saya Stanko" ujarnya sambil menjulurkan tangannya dengan tersenyum. Ih... gantengnya pikirku.
"Aliah" kataku menyambut uluran tangannya. Kubalas juga senyumnya dengan senyum nakalku. Siapa sih yang tahan dengan cowo seganteng Stanco.
"Masih kuliah atau sudah bekerja?" tanyanya.
"Saya masih kuliah" jawabku "emang saya sudah seperti gadis yang bekerja?" tannyaku yang di sambut dengan tawanya. Tak terasa kami mulai akrab. Kami bercerita panjang lebar. Dia adalah seorang sarjana mesin dan sedang bekerja di Malasya, dia pulang karena cuti. Umurnya 27 tahun, tapi karirnya lumayan bagus. Dalam waktu yang relative singkat dia sudah bisa menjadi eksekutif muda.

Kami bercerita panjang lebar sambil tertawa-tawa. Sesekali dia menatap kearah dadaku yang terguncang-guncang jika aku tertawa. Dia pasti kagum dengan wajah dan penampilanku malam itu. Aku sudah tidak menyadarinya karena kuraskan aku mulai mabuk, kepalaku pening. Tapi aku masih memesan minum lagi sampai kurasakan aku benar-benar mabuk.

"Tolong antar aku ke mobil, bisa ga?" ujarku karena aku merasa sudah tidak kuat lagi berjalan. segera dipapahnya tubuhku kearah mobil. Aku mengambil kunci mobil dan mulai membuka pintunya, tapi kesadaranku belum benar-benar sempurna sehingga membuka pintu saja aku kepayahan.
"Bisa nyetir ga, Aliah?" tannyanya.


"Bagaimana kalo aku antar kamu pulang?" tanpa meminta persetujuanku dia segera mengemudiakan mobilku. Segera kuberi alamatku dan kami segera meluncur kesana. Dimobil aku hanya tiduran untuk mengurangi berat dikepalaku. Sesampainya dirumahku dia memapahku turun dari mobil. Aku yang belum sadar betul memintanya mengantarkanku kekamar. Kebetulan pembantuku tidak ada dirumah. Maka dia memapahku kekamar dan menjatuhkan tubuhku kekasur. Dia membuka sepatuku dan memberikan tisu basah untuk melap wajahku. Perlahan kesadaranku mulai dating walau masih pening kurasakan.

"Terima kasih ya, Stan. Kalo ga ada kamu aku ga tahu harus pulang bagaimana" ujarku. Dia hanya tersenyum. Manis sekali.
"Ga pa-pa kok" sahutnya "ya udah kamu istirahat aja dulu, aku balik sekarang ya".
Tidak tahu karena sikap gentemennya ato Karena pengaruh alcohol aku berdiri dan mendekatinya. "Terimakasih ya" ucapku lagi. Mataku menatap matanya, ntah siapa yang mulai kami sudah berciumandengan hangat. Kurasakan bibirnya bergetar menikmati bibir hangatku.

"Maukah kau menemaniku malam ini, stan?" tannyaku. Aku cukup kaget dengan ucapanku sendiri, sejak kapan aku jadi agresif seperti ini pikirku. Mungkin pengaruh alcohol ato kepribadiannya yang menyenangkan membuatku ingin membalas kebaikannya. Aku akhirnya tak peduli, yang penting aku bisa menikmati malam ini tanpa sendirian dirumahku yang sepi dan besar ini.

Dia hanya menatapku sambil tersenyum lalu kembali melumat bibirku. Ciuman kami sangat panjang dan indah. Aku menikmati bibirnya dimulutku. Lidah kami saling bertayut. Sunguh ciuman yang panjang dan nikmat. Baru saja aku nikmati bibirnya yang hangat di bibirku, aku merasa ada yang meraba tubuhku, disusul remasan halus di dadaku. Aku tahu itu Stanco, aku tidak menolak. Aku biarkan dia main-main di sana. 


Ciumannya sekarang beralih ketelingku. Di kulumnnya benda itu sehingga meimbulkan sensasi geli. Dia lalu membalikkan tubuhku sehingga aku membelakanginya. Digesernya rambutku yang menutupi leher lalu dia mendaratkan ciumannya kesana. Dijilatinya leher jenjangku. Lidahnya bermain-main disana dari atas kebawah berulang-ulang. Aku suka rangsangan dengan sensasi geli seperti ini
"Ahh..." hanya itu yang keluar dari mulutku, sungguh gentlement sikapnya.

Tangnya kembali meremas-remas dadaku yang masih ditutupi gaunku. Aku tak kuasa untuk tidak mendesah kala ciumannya beralih ke pundakku yang tebuka. Aku melayang dibuatnya. Sengguh sangat romantis perlakuanya kepadaku. Aku mulai meremas-remas rambutnya.

Puas menyerang bibir,telinga, leher dan dadaku, Stanco makin berani, dia angkat badanku dan diduduki di pinggir ranjang. Dia cium aku sekali lagi, terus dia mau buka gaunku. Diturunkannya tali gaunku yang ada dikana-kiri pundakku, sehinga dadaku langsung terpampang dihadapannya. Nampak braku kekecilan menampung semua dadaku yang lumayan besar. Dia juga mulai melepaskan semua bajunya hingga tersisa celana dalam putih. Aku lihat penisnya yang membayang di balik celana dalamnya, aku coba menerka-nerka ukurannya sambil membanding-bandingkan dengan penis alan (mantanku).

Waktu aku berhenti memikirkan benda dibalik CDnya, aku baru sadar kalau bra-ku sudah dilepasnya. Sekarang dadaku telanjang bulat. Kurasakan hembusan angiin menerpa dadaku yang padat berisi. Ada perasaan risih kala dadaku telanjang bulat dihadapannya, orang yang baru kukenal beberapa saat yang lalu. 


Stanco menatap takjub kearah bongkahan daging didadaku.dapat kulihat dia menelan air liurnya sendiri. Aku tak heran akan ketakjupannya memandangi benda favorit laki-laki itu. Pasti semua laki-laki terkesima juga melihat payudaraku yang putih, mulus dan indah dengan ujungnya menjulang keatas. Putingku yang berwarna kemerah-merahnya menambah kesexyan dadaku, apalagi ukurannya cukup besar membuat orang yg pernah menikmatinya ingin menikmatinya lagi. Begitu juga dengan Stanco.

"Indah sekali, Aliah" ujarnya kagum,setelah lama hanya memandangi saja. Aku tentu saja bangga dipuji cowo keren seperti stanco. Dia mulai meremas dadaku lagi, kurasakan tanganya lembutnya dipermukaan dadaku. Diremasnya benda kenyal itu. Diplintirnya putingku dengan ujung jarinya. Aku hanya bisa memejamkan mata.Nafasku memburu dan aku mulai merasakan bagian selangkanganku mulai basah. Apalagi saat ibujari dan telunjuknya mulai mempermainkan puting payudaraku yang sudah semakin mengeras.

Tiba-tiba remasan itu berhenti, tapi ada sesuatu yang hangat di sekitar dadaku, terus berhenti di putingku. Aku melek sebentar, Stanco asik menjilati putingku sambil sesekali mengisap-ngisap. Kontan tubuhku bergetar hebat menahan kenikmatan tersebut. Tiba-tiba ada sepercik perasaan liar menyerangku. Aku ingin lebih dari itu. Mungkin karena pengaruh alcohol, Aku ingin merasakan kenikmatan yang lebih. Godaan itu begitu menggebu. Lalu tanpa sadar tanganku memegang kepalanya seolah-olah membantunya untuk memuaskan dahagaku.

Kemudian dilepaskannya dadaku dan dia merebahkan tubuhku ditengah ranjangku. Lalu dibukanya gaunku melewati pantatku. Kini aku hanya mengenakan CD biruku saja. Paha mulusku menjadi santapan tangannya. Dielusnya pahaku yang putih bak pualam itu. Tangan kanannya dengan lihat menyapu setiap ujung pahaku bahkan sampai kepangkal pahaku. Ini membuat syarafku semakin terangsang hebat. Apalagi tangannya yang kiri mulai meremas lagi kedua belah payudaraku dengan gemasnya. Mataku kembali terpejam dan bibirku mendesah-desah.

Aku kembali melayang di awan saat dengan gemas Stanco menghisap kedua puting payudaraku bergantian. Rangsangan yang kuterima begitu dahsyat untuk kutahan. Harus kuakui, dia sangat pandai mengobarkan birahiku. Jilatan demi jilatan lidahnya keleher dan dadaku benar-benar telah membuatku terbakar dalam kenikmatan.


Kemudian aku buka mata sambil melihat bagaimana Stanco menjelajahi setiap lekuk tubuhku. Tapi tiba-tiba aku dikagetkan sesuatu yang menyentuh selangkanganku. Tepat di bagian vaginaku. Aku tidak sadar mendesah panjang. Rupanya Stanco sudah membuka CDku,kain penutup terakhir tubuhku. 


Aku tidak sadar sedari kapan dia menelanjangiku bulat-bulat. Aku sangat malu sekali dalam keaadan telanjang bulat dihadapan lelaki yang sama sekali belum kukenal lama. Tapi perasaan risih itu mulai kutepis, keinginan untuk menikmati lebih jauh mengalahkan semuanya. Pikiranku terhenti karena kali ini jarinya mengelus-elus vaginaku yang sudah basah sekali. Otot vaginaku bergetar kala dia menggosokkan jarinya disana. Sementara itu,dia masih terus menjilati puting susuku yang sudah mengeras sebelum akhirnya dia pindah ke selangkanganku.

Aku menarik nafas dalam-dalam waktu lidahnya yang basah dan hangat pelan-pelan menyentuh vaginaku. Aku kontan bergetar hebat kala lidahnya tepat menyentuh bagian terindah dari tubuhku tersebut. Aku bergelonjotan seperti kena setrum lisrik ratusan watt. Dan tanpa terasa bibirku menjerit keras.
"Auw...." lolongku. Malah aku makin menggila kala jilatannya kini naik ke klitoris-ku, dan waktu lidahnya itu menyentuh klitoris-ku, aku tidak sadar mendesah lagi, dan tanganku tidak sengaja meremas rambutnya. Jarang-jarang aku di oral teman ML-ku, sehingga oralnya terasa special buatku. Aku meremas bantal disampingku denga keras, mencoba mengurangi 'penyiksaan' ini.

Dia cukup mengerti keadaanku yang sangat kaget dioralnya. Maka dia kembali menyerang dadaku,terus diciumnya bibirku,leherku dan hidungku dan kembali lagi kedadaku. Dia sangat menyukai benda kenyal didadaku itu. Sambil menyerang dadaku perlahan tangan kembali beralih ke vaginaku. Selangkanganku terasa semakin banjir saja karena jarinya mengorek-ngorek lubang itu. Satu jari tanganya masuk semakin dalam kerongga itu, lalu ditariknya keluar masuk secara perlahan dan lembut. Supah aku menyukai kelembutannya.

Tapi itu tidak berlangsung lama karena dia melanjutkan permainannya di selangkanganku. Kembali liang senggamaku menjadi persinggahan mulutnya. Mulutnya kadang mengisap dan kadang meniupkan angin sehingga menimbulkan sensasi luar biasa. Stanco benar-benar jago mainkan lidahnya, benar-benar bikin aku merem-melek keenakan. 


Terus di melintir-melintir klitorisku pakai bibirnya. Aku seperti kesetrum tidak tahan, tapi Stanco malah terus-terusan melintir-melintiri "kacang"-ku itu. Jilatanya menyapu setiap millimeter vaginaku. Sambil mengoralku tanganya tak pernah berhenti, dia meremas-remas paha dan pantatku. Bahkan tanganya menjulur ketas untuk kembali meremas puting dadaku yang semakin mencuat tegak. Aku sudah sangat keringatan, oral terpanjang dan terindah yang pernah kudapat.

"Euh... ah... ah... ach... aw..." aku sudah tidak tahu bagaimana aku waktu itu, yang jelas mataku buram, semua serasa mutar-mutar. Badanku lemas dan nafasku memburu. Aku benar-benar pusing, terus aku memejamkan mataku, ada lonjakan-lonjakan nikmat di badanku mulai dari selangkanganku, ke pinggul, dada dan akhirnya bikin badanku kejang-kejang tanpa bisa aku kendalikan. Aku orgasme. 


Desahan panjang menandakan orgasmeku bersamaan dengan mengucurnya cairan cintaku membasahi selangkanganku. Cairan bening dari vaginaku mengucur deras membasahi mulutnya. Segera dilepaskanya mulutnya dari vaginaku. Kubuka pahaku dengan lebar sehingga cairanku mengalir dengan sendirinya.

Aku menatap langit-langit kamarku, sengguh indah sekali permainannya di selangkanganku. Mataku menatapnya, kulihat mukannya sangat merah, dia pasti sangat bernafsu sekali melihat kondisiku. Dan satu yang pasti dia pasti ingin sekali merasakan jepitan vaginaku di penisnya. Tapi dia belum melakukanya. Stanco memberikan handuk kepadaku untuk menyeka keringatku. lalu memberiku minum air putih untuk mengisi kerongkonganku yang sudah kering akibat aku berteriak-teriak dari tadi.

Aku makin kagum dibuatnya, dia memberikan kenikmatan kepadaku terlebih dahulu dan tak mau memaksaku. Dia memberikanku waktu istirahat. Sungguh gentlement sikapnya. Aku mulai menyukainya, aku ingin membalas kenikmatan yang diberikannya padaku. Maka kudekati dirinya yang kini duduk disisi ranjang. Aku tersenyum padanya. Segera kulumat bibirnya dengan lembut. Dia membalasku. Sambil berciman dengannya perlahan-lahan tanganku beralih kebalik CDnya. Kuremas benda itu. Dia mendesih sambil kembali menyerang dadaku. Merasa terhalang oleh CDnya, Stanco lalu melepas penutup penisnya itu. Aku dapat melihat batngnya yang sudah menegang. Lumayan besar dan kokoh. Lebih besar dari milik alan mantanku.

Tanpa menunggu lama, kembali kuremas penisnya. Kukocok-kocok keatas dan kebawah. Hal itu membuatnya makin mendesah. Aku ingin memuaskannya sama seperti dia memuaskanku tadi. Maka segera aku bersimpuh dilantai, kepalaku tepat berada didepan penisnya. Aku menatapnya denga tersenyum nakal. Dia hanya menatapku sambil menanti tindakanku selanjutnya. Penisnya yang hampir maksimal hanya beberapa inci berdiri di depan mukaku. 


Dia megangi batang penisnya pakai tangan kanannya, tangan kirinya membelai rambutku. Kemudian aku buka mulutku, aku jilat sedikit kepala penisnya. Hangat dan bikin aku ketagihan. Aku mulai berani menjilat lagi, terus dan terus. Stanco hanya duduk di tepi ranjang, kedua kakinya dibiarkan terlentang. Dia menikmati mulutku yang mulai bekerja.

Mula-mula aku cuma menjilati, terus aku mulai emut kepala penisnya, aku hisap sedikit terus kumasukkan semuanya ke mulutku. Kepala penisnya sudah menyodok ujung mulutku, tapi masih ada sisa sedikit lagi lagi. Aku tidak maksakan, aku gerakkan naik-turun sambil aku hisap dan sesekali aku gosok batang penisnya pakai tangan kiriku. Harus kuakui dalam urusan oral sex, aku bukanlah ahlinya. Tapi Stanco sepertiya puas juga sama permainanku, dia memperhatikan bagaimana aku meng-"karaoke"-in dia. 


Dia mengguman tak jelas setiap kali lidahku menyentuh ujung batangnya sambil sesekali membuka mulut. Aku mulai bisa menikmati bagaimana enaknya mengoral penis laki-laki, apalagi dari orang yang mulai kusukai ini. Tak terasa nafsukuun mulai bangkit. Aku tak tahan melihat desahn kenikmatan darinya kala penisnya kuoral seadanya.

Sekitar 5 menit akhirnya Stanco tidak tahan, sepertinya dia tidak mau cepat-cepat orgasme sebelum permainan yang lebih dalam. kemudian dia berdiri, didorongnya badanku ke lantai sampai aku terlentang. Lantai kamarku dilapisi oleh permadani yang sangat empuk sekali, sama empuknya dengan kasur (walau tak seempuk spring bedku), makanya aku tak menolak jika dia membaringkaku disana. 


Diambilnya 2 buah bantal besar untuk menyangga kepalaku. Kemudian dia bersimbuh dilantai, dibukanya pahaku agak lebar dan dijilatnya sekali lagi vaginaku yang mulai kebanjiran. Terus dipegangnya penisnya yang sudah sampai ke ukuran maksimal. Aku menanti dengan perasaan berdebar-debar. Dia mengarahkan penisnya ke vaginaku, tapi tidak langsung dia masukan, dia gosok-gosokkan kepala penisnya ke bibir vaginaku, kembali sarafku terangsang dibuatnya. beberapa detik kemudian dia dorong penisnya ke dalam. Seperti ada sesuatu yang maksa masuk ke dalam vaginaku, menggesek dindingnya yang sudah dibasahi lendir.

Vaginaku sudah basah, tetap saja tidak semua penis Stanco yang masuk. Paling hanya setengahnya Dia tidak memaksa, dia cuma mengocok-ngocok penisnya di situ-situ juga. Aku mulai merem-melek lagi merasakan bagaimana penisnya menggosok-gosok dinding vaginaku yang sempit itu. Aku merasakan benar-benar nikmat. Waktu aku asik merem-melek, tiba-tiba penis Satnco maksa masuk terus melesak ke dalam vaginaku.
"Aw... ah..." aku tak kuasa untuk tidak menjerit kala penisnya melesak semuanya kevaginaku. Uuhhh ... aku merasakan nikmat desakan batang yang hangat panas memasuki lubang kemaluanku. Sesak. Penuh. Tak ada ruang dan celah yang tersisa. Daging panas itu terus mendesak masuk.

"Nikmat sekali vaginamu, Al" ujarnya bergetar. Aku hanya melototkan mataku kearahanya, ga tahu mo ngomong apa. Yang pengting aku ingin segera menikmati indahnya dunia. Stanco sendiri juga mengerang nikmat akibat himpitan dinding vaginanya

Stanco mengerti akan keinginanku yang ingin segera dipuaskan, maka dia mulai menggerakkan pinggangnya naik-turun. Penisnya menggesek-gesek vaginaku dengan pelan dan lambat. Ditariknya pelan kemudian didorongnya. Ditariknya pelan kembali dan kembali didorongnya. Begitu dia ulang-ulangi dengan frekewnsi yang makin sering dan makin cepat. 


Stanco makin cepat dan makin keras mengocok vaginaku, aku sendiri sudah merem-melek tidak tahan merasakan nikmat yang terus-terusan mengalir dari dalam vaginaku. Payudaraku bergoncang-goncang, rambutku terburai, keringatku, keringatnya mengalir dan berjatuhan di tubuh masing-masing. mataku menatap langit-langit kamarku dengan tatapan kosong, dan mata Stanco sama-sama melihat keatas dengan menyisakan sedikit putih matanya.

"AHh... aHHH... terus... stan... terus..." jeritku panjang . Aku tidak bisa tidak mendesah setiap kali dia menggenjotku, suaraku membahana di seluruh kamar. Malah terkadang aku harus menggigit bibir atau jari. Dia semakin cepat memaju-mundurkan penisnya, hal ini menimbulkan sensasi nikmat yang terus menjalari tubuhku.

Tidak berapa lama kemudian, Kedua pergelangan kakiku dipegangi olehnya. Stanco lalu menaikkan kedua betisku ke bahunya. Tanpa menunggu lama dia kembali menyentuhkan kepala penisnya ke bibir vaginanya. "Shhh..." desahku sambil menggigit bibir atasku. Aku meringis dan mengerang saat liang senggamanya yang masih rapat diterobos benda itu lagi, tubuhku kembali tegang sambil meremasi bantal disampingku. Dengan posisi seperti itu penisnya lebih dalam menyentuh rahimku. Kemudian dengan frekwensi yang tinggi disodok-sodokkannya penis itu. Dadaku makin bergerak bebas keatas dan kebawah. Matanya menatap tajam kearah dadaku yang bergerak-gerak, aku sangat menikmati matanya yang melotot hamper keluar, saat dadaku bergerak dengan indahnya. Aku sudah tidak bisa melukiskan lagi kenikmatan yang kualami.

Kenikmatan yang kurasakan makin bertambah kala tangannya mulai meraba dadaku yang bergoyang-goyang. Diremasnya kedua payudaraku yang kiri dan yang kakan secara bergantian. Diplintir-plintirnya putingku dengan gemasnya.
“Ayo... Stanco... puaskan aku... oh... oh..." aku mulai liar.
"Puaskan... aku... sayang... ayo..." aku mendesah-desah dengan ribut. Remasannya kurasakan makin intens didadaku. Malah kini cederung kasar, dia mulai menarik-narik buah dadaku sesukanya. Aku makin mejerit kesakitan, tapi tak sebanding dengan kenikmatan yang kurasakan dibawah sana. Untuk lantai kamarku dilapisi ambal yang sangat lembut, kalo karpet bias pasti aku tidak akan merasakn kenikmatan ini.

Stanco menaikkan tempo permainannya, disodoknya Aku sambil sesekali digoyangnya ke kiri dan kanan untuk variasi, tak ketinggalan tangannya meremasi pantatnya yang montok. Aku semakin menggeliat keenakan, desahannya pun semakin mengekspresikan rasa nikmat. Sepertinya sebentar lagi aku akan "keluar", Maka Aku ikut menggoyangkan pantatku sehingga terdengar suara badan kami beradu yaitu bunyi plok-plok tak beraturan yang bercampur baur dengan erangan kami. Ranjang didepanku kulihat makin lama makin kabur, Sementara rasa nikmat semakin menyerobot jiwaku.
Demikian secara beruntun, semakin cepat, semakin cepat, cepat, cepat, cepat, cepat, cepaattt... ceppaattt....

Sampai akhirnya kurasakn suatu ledakan direlung sanubariku. Aku orgasme dalam waktu yang tidak terlalu lama. Pengaruh alcohol membuatku orgasme dengan cepat. Kurakan cairan vaginaku mengalir dengan deras membasahi penisnya yang masih tegang.


"Ooohhh..!" desahku dengan tubuh menegang dan mencengkram lengannya. Tubuhku lemas sekali setelah sebelumnya mengejang hebat, keringatku sudah menetes-netes di ambal. Nikmat... hanya satu kata mengakhiri orgasmeku.

Namun sepertinya Stanco masih belum selesai, nampak dari penisnya yang masih tegang. Sungguh hebat laki-laki ini, batinku, aku yang sudah orgasme 2 kali sedangkan dia satu kali pun belum. Tapi aku tahu bahwa dalam kondisi normal (tidak mabuk seperti saat ini), aku pasti bisa mengimbanginya. 


Stanco sangat perhatian kepadaku, dia tidak mau memakasakan nafsunya kepadaku, walau aku tahu libidonya sudah tinggi sekali, tapi dia masih sabar menuntunku ke kondisi normal. Hal itu sungguh sikap yang jantan. Aku sangat nyaman berada didekatnya. Aku cuma diangkat dan dibaringkan di atas ranjang, lumayan aku bisa beristirahat sebentar karena dia sendiri katanya kecapekan tapi masih belum keluar. 

Tubuh telanjangku tergelatak tak berdaya ditengah-tengah ranjang, aku sudah tidak risih lagi kala tatapannya nanar keseluruh tubuhku, terlebih-lebih kearah dadaku yang bergerak-gerak dengan perlahan seiring dengan tarikan nafasku. Kami menghimpun kembali tenaga yang tercerai-berai.

Selang beberapa saat Stanco mulai beraksi lagi, nampaknya dia sangat penasaran maka dia memagut bibirku yang kubalas dengan tak kalah hot. Aku memainkan lidahku sambil tanganku memijat penisnya yang masih tegang. Kali ini dia tidak lagi meraba dadaku atau tubuhku yang lain, malah dia membalikkan tubuhku. Kutelungkupkan tubuh telanjangku ditengah ranjang dan menaruh kepalaku di atas bantal. Aku sudah pasrah mau diapakan saja olehnya.

Stanco menaikiku lalu mencium juga mengelusi punggungku, aku mendesah merasakan rangsangan erotis itu. Ciumannya makin turun sampai ke pantatku, disapukannya lidahnya pada bongkahan yang putih sekal itu, diciumi, bahkan digigit sehingga aku menjerit kecil.

Mulutnya turun ke bawah lagi, menciumi setiap jengkal kulit pahaku. Lambat laun aku mulai menikmati caranya memperlakukanku. Beberapa saat kemudian dia menekuk paha kananku ke samping sehingga pahaku lebih terbuka. Aku mulai merasakan jari-jarinya menyentuh vaginaku, dua jari masuk ke liangnya, satu jari menggosok klitorisku. Aku hanya mendesah dengan pelan.

"Kita mulai lagi ya,Al" pintanya sopan. Aku hanya mengagguk walau aku ga tahu apa aku masih bisa mengimbanginya karena rasa lelah sudah menguasaiku. Tapi keinginan untuk memuaskannya mengalahkan rasa capekku.

Stanco lalu mengangkat pantatku ke atas, kutahan dengan lututku dan kupakai telapak tangan untuk menyangga tubuh bagian atasku. Dia nampaknya ingin doggy style, aku jadi teringat Alan yang sangat suka gaya tersebut.
Shit.. bisa-bisanya aku ingin lelaki yang telah memutuskanku. Mendingan aku menikmati kenikmatan ini dengan dengan stanco, pikirku. Belum habis pikiranku,kurasakan benda tumpul menyeruak ke vaginaku. Aku meringis dengan mata terpejam menghayati moment-moment penetrasi itu. Tenagaku yg sudah terkuras mengakibatkan jeritanku menjadi desahn pelan.
"Sh... hhh..." hanya itu yg keluar dari mulutku.

Dia kembali memacu tubuhku. Dimaju-mundurkannya batanganya dilobangku. Dengan posisi doggy seperti ini kurasakn sodokannya makin mantap. Aku tak kuasa menahan desahanku menerima hujaman-hujaman penisnya ke dalam tubuhku. Sensasi yang tak terlukiskan terutama waktu dia memutar-mutar penisnya di vaginaku, rasanya seperti sedang dibor saja. Walau sangat letih aku tak rela kalau sensasi ini cepat-cepat berlalu, makannya aku mulai mengimbangai sodokannya. Aku selalu mendesah menikmati penisnya ditelan vaginaku. Selangakanku yang sudah basah kuyup menimbulkan bunyi kecipak setiap menerima tusukan.

Stanco benar-benar ahli, sambil mengocok vaginaku dia juga meremas-remas pantat sekalku. Dia sangat bernafsu melihat pantatku yang maju mundur diadapannya. Hal itu terbukti dari remasannya yang tak ada henti-hentinnya, bahkan sesekali dicengkramnya bulatan pantatku dengan keras. Aku tak kuasa untuk tidak mendesah kala titik sensitifku itu di perlakukannya sesukanya.

Penisnya masih beroperasi di dengan bebasnya divaginaku. Diaduk-aduknya sambil sesekali digoyang-goyankan didalam ronggaku. Permainannya sungguh membuatku terhanyut, dia selalu memulainya dengan genjotan-genjotan pelan, tapi lama-kelamaan sodokannya terasa makin keras sampai tubuhku berguncang dengan hebatnya. Setelah itu kembali pelan lalu keras lagi. Saat tubuhku berguncang dengan hebatnya otomatis dadaku juga makin bergunjang juga. Kesempatan itu tidak disia-siakannya, langsung disambarnya dadaku yang makin membesar karena aku menungging. Diremasnya sambil dipelintir-pelintir putingnya. Aku merasakan tubuhku makin terbakar, aku menggeliat sambil meremas-remas ranjangku yang sudah berantakan. Desahanku makin menjadi-jadi. Tenagaku terkumpul kembali aku aku mulai ikut mengimbangan sodokannya. Sambil menyodokku tanganny berpindah dari punggung ke dada dan kepantatku. Tapi paling lama tangana bergerilya didadaku, dia nampaknya sangat menyukai benda itu. Selain diremas, sesekali juga ditarik-tariknya kebawah, sehingga membuatku makin bersemangat melawan pompaannya.

"Ah... euh... ah... aw..." aku cuma bisa mendesah setiap kali Stanco menyodokkan penisnya ke vaginaku. Aku sudah tidak bisa ngapa-ngapain setiap kali dia menyodokkan penisnya, selain ikut juga bergoyang seirama dengannya. Stanco makin semangat menyerang titik-titik sarafku. Pinggulnya bergerak cepat diantara kedua pahaku sementara mulutnya mencupangi pundak dan leher jenjangku. Aku hanya bisa menengadahkan kepala dan mendesah sejadi-jadinya. Dari pantatku, lalu dadaku, kini leher dan pundakku menjadi bulan-bulanan lidahnya. Goncangan kami makin lama makin cepat. Goncangan makin cepat itu juga membuat ranjangku ikut berderak-derak.

Aku menjerit keras ketika tiba-tiba dia tarik rambutku dan tangan kanannya juga ikut menarikku ke belakang. Rupanya dia ingin menaikkanku ke pangkuannya. Sesudah mencari posisi yang pas, kamipun meneruskan permainan dengan posisi berpangkuan membelakanginya. Dengan posisi itu penisnya makin dalam menerobos vaginaku. Kurasakan hamper sampai dirahimku. Dengan mendesah-desah aku membantunya menggoyang-goyangkan pantatku. Harus kuakui dia sungguh hebat dan pandai mempermainkan nafsuku, aku sudah dibuatnya 2 kali orgasme, tapi dia sendiri masih perkasa.

Stanco melancarkan pompaannya terhadapku dengan semangat sekali, kali ini ditambah lagi dengan cupangan pada leher dan pundakku. Aku hanya tertunduk membiarkanya menikmati leher jenjangku. Tangannya juga ikut-ikutan meremas payudaraku yang bergerak bebas. Aku sudah tidak bisa lagi melukiskan keindahan yang kurasakan. Lebih indah dari segala hal.

"Ahh.. aahh.. yeahh, terus..." desahku dengan terbata-bata..
Genjotannya semakin kuat dan bertenaga, terkadang diselingi dengan gerakan memutar yang membuat vaginaku terasa diobok-obok.

Aku mengangkat kedua tanganku dan melingkari lehernya, lalu dia menolehkan kepalaku agar bisa melumat bibirku. Aku semakin cepat menaik-turunkan tubuhku sambil terus berciuman dengan liar. Aku berusaha menimbangi genjotannya. Tangannya dari belakang tak henti-hentinya meremasi dadaku, putingku yang sudah mengeras itu terus saja dimain-mainkan. Malah kini bibirnya mulai menjelajahi dadaku. Sambil terus menggenjot, Stanco menyorongkan kepalanya ke payudaraku. Mulutnya melumat payudaraku dan mengisapnya dengan gemas membuatku semakin tak karuan.

Aku mulai menggila, suaraku terdengar keras sekali beradu dengan erangannya dan deritan ranjang yang bergoyang. Penisnya masih keluar-masuk dengan bebasnya divaginaku yang sudah sangat becek sekali. Aku mendesah makin tak karuan, kala dadaku yg satu lagi diremas oleh tangan kirinya. Tubuhku menggelinjang, kujambak rambutnya, pinggulku kugerak-gerakkan terus sebagai ekspresi rasa nikmat.

Gelinjang tubuhku makin tak terkendali karena merasa akan segera keluar, kugerakkan badanku sekuat tenaga sehingga penis itu menusuk semakin dalam. Mulutnya terlepas dari dadaku karena aku makin bersemangat menggenjotnya. Dia justru makin rakus mengerjai dadaku. Putingku kembali ditangkap dengan mulut kemudian digigit denga pelan, aku merintih dan meringis karena sedikit nyeri, namun juga merasa nikmat. Kami masih terus bergoyang berirama. Aku merasakan akan segera orgasme. Maka aku mendesah sejadi-jadinya.

Mengetahui aku sudah diambang klimaks, tiba-tiba dia melepaskan pelukannya dan berbaring telentang. Ada perasaan kesal kala dia melepaskan penisnya diambang orgasmeku. Tapi kekesalanku segera hilang setelah disuruhnya aku membalikan badanku berhadapan dengannya. Dia biarkan aku mencari kepuasanku sendiri dalam gaya woman on top. Aku sangat senang sekali karena posisi ini adalah posisi favoritku yang sering kulakukan bersama mantan pacarku . 


Aku tanpa ragu menuntun penisnya yang masih mengeras ke arah vaginaku dan aku mengambil posisi menduduki tubuhnya. Setelah penisnya memasuki vaginaku, aku mulai menggerakkan tubuhku naik turun. Dengan bernafsu kugoyangkan pinggulku diatas tubuhnya. Kini justru aku yang aktif memacu kenikmatan diatas tubuh tegapnya. 

Perasaan nikmat mengalir dengan deras di sekujur tubuhku. Kembali kurasakan kenikmatan yang tertunda tadi. Aku berusaha sekuat tenaga menahan klimaksku. Aku mendesah tak karuan seperti semula, merasakan batangnya yang masih kokoh mengaduk-aduk liang kewanitaanku. Dia dengan sibuk menggerakkan pinggulnya membalas goyanganku . Aku semakin menikmati persetubuhan lain jenis ini.

Dadaku kembali terayun-ayun seiring goyangan tubuhku. Warnanya sudah kemerah-merahan karena diremas dan diemut olehnya. Malah kini makin mencuat dan menjulang keatas seiring dengan nafsuku yang sudah diubun-ubun. Stanco masih sibuk membantuku menaik-turunkan tubuhku dengan cara mengangkat pantatku. Hal itu justru membuatku makin gila. Dia tidak hanya mengangkat pantatku malah meremasnya juga. Hal itu membuat payudaraku makin hebat bergocang. Pasti orang lain yang melihatnya sangat bernafsu sekali, melihat dadaku bergerak dengan indah keatas kebawah.

Stanco nampaknya sangat senang menyaksikan payudaraku yang bergoyang-goyang seirama tubuhku yang naik turun. Matanya tak pernah lepas dari payudaraku. Hal itu membuatku makin bernafsu saja. Aku sangat senang jika oranglain mengagumi keindahan tubuhku,maka aku ikut membantu kedua belah telapak tangannya meremasi payudaraku. Dia mencengkramkan kedua tangannya pada payudaraku. Aku sudah tak kuat untuk menahan orgasmeku. Apalagi ketika dia mendekatakan kepalanya kedadaku. Tanpa menghentikan goyangannya, dicondongkannya wajahnya kedepan meraih dadaku.

Stanco menikmati goyanganku sambil "menyusu" payudaraku yang tepat di depan wajahnya, payudaraku dikulum dan digigit kecil dalam mulutnya seperti bayi sedang menyusu. Aku meresapi setiap detil kenikmatan yang sedang menyelubungi tubuhku, semakin bersemangat pula aku melakukan persetubuhan ini. Terkadang aku melakukan gerakan memutar sehingga vaginaku terasa seperti diaduk-aduk. Sama sepertiku stanco juga mendesahdesah sambil menyebut namaku.

Dengan posisi wanita diatas seperti ini, aku merasakan bukan hanya dinding vaginaku yang tergesek, melainkan klitorisku juga tergesek-gesek, makanya aku makin lemas dan merem-melek keenakan. Genjotan dan dengusannya semakin keras, menandakan dia akan segera mencapai klimaks, hal yang sama juga kurasakan pada diriku. Otot-otot kemaluanku berkontraksi semakin cepat meremas-remas penisnya. Penisnya terus dan terus menghujam-hujam keluar masuk vaginaku.

"Yess... dikit lagi... aahh.. Stan... udah mau..." aku mempercepat iramaku. Walau sudah mulai lemas, aku terus mempercepat goyanganku karena merasa sudah mau keluar, makin lama gerakanku makin liar dan eranganku pun makin tidak karuan menahan nikmat yang luar biasa itu. Pada detik-detik mencapai puncak tubuhku mengejang hebat diiringi teriakan panjang. Cairan cintaku seperti juga keringatku mengalir dengan derasnya menimbulkan suara kecipak. Dan ketika klimaks itu sampai aku menjerit histeris sambil mempererat pelukanku. Benar-benar dahsyat yang kuperoleh darinya.

Dia masih terus mengoyangkan penisnya sehingga orgasmeku makin panjang, malah kini dia melenguh-lenguh lebih cepat.
"Oh...... oookkhh... akuuuhh maauu... keluuuaaarr Aliah... ", dia berteriak kesetanan dan genjotannya makin bertambah cepat. Dalam hitungan detik kurasakan cairan kental menembak keliang senggamaku, setidaknya ada 3 kali tembakan sebelum seluruh spermanya masuk semuanya kerahimku. Untung saat itu bukan masa suburku sehingga aku tidak takut hamil. Akhirnya aku ambruk diatas tubuhnya. Kurasakn sisa spermanya mengakir keluar dari vaginaku. Dia mencium keningku sambil mengucapkan terimakasih. Katanya dia sangat menikmati adegan tadi. Aku sangat tersanjung, setidaknya dia tidak menganggapku cewe murahan.

Setelah kupikir-pikir kalo aku tidak dipengaruhi alcohol tadi,pasti aku tidak akan merasakn kenikmatan seperti tadi. Bayangkan aku 3 kali orgasme dibuatnya. Sungguh indah dan belum pernah kurasakn dari sipapun, bahkan dari mantan-mantanku juga.

Setelah membersihkan badan akhirnya kami tertidur. Aku bangun paginya dengan bahagia sekali. Kulihat Stanco terbaring disampingku dengan nyeyak. Sebelum pamitan pulang pagi itu, Stanco memberikan kehangatan yang terakhir kalinya dengannya. Kami bersetubuh sekali lagi dibathup kamar mandiku. Kami sama-sama menikmati puncak kenikmatan secar bersama-sama. Sungguh kenikmatan yang tiada tara. Dia memperlakukanku seperti layaknya seorang ratu. Tapi aku sangat menyesal karena Stanco harus balik ke Malaysa beberapa hari kemudian.

Disaat-saat libidoku sedang naik,terkadang aku masih merindukan Stanco disisiku. Walau ia berjanji akan sering balik ke Bandung, tapi aku akan mencoba melupakannya dan berusaha mencari petualanganku yang lain, tentunya dengan cowo-cowo macho lainya.

Cewek Twenty One

Kali ini gue mau cerita pengalaman gue dengan seorang cewek yang memang pekerjaannya adalah untuk memuaskan nafsu birahi cowok-cowok yang membutuhkan. Berawal pada suatu hari (gue udah lupa hari dan tanggalnya), saat itu gue udah mulai kerja di suatu perusahaan yang lumayan besar. Yang gue inget hari itu gue enggak masuk kantor berhubung sedang libur. Untuk mengisi kekosongan hari itu gue jalan- jalan ke Blok-M Plaza sendiri aja karena gue lagi engga punya cewek (baru putus), iseng aja gue keliling sendiri mulai dari lantai bawah sampai ke lantai atas dan akhirnya gue stand by di bioskop twenty one. Sambil asik ngeliat poster-poster film yang dipasang, mata gue jelalatan kekiri dan kekanan kali-kali aja ada cewek yang mau nemenin gue nonton film. Tapi kayaknya hari itu hari sial gue, karena gue liat engga ada satu cewekpun yang sendirian, semua cewek yang dateng kesitu semua bawa pasangan.

Setengah putus asa gue beli aja tiket nonton dalem hati gue bilang "ya udah lah ". Saat pintu theater di buka gue langsung aja masuk dan nunggu filmnya diputer. Waktu film ampir maen tiba-tiba ada yang negor gue "Permisi Mas..!", waktu gue liat ternyata yang ngomong adalah seorang cewek. Dia ternyata duduk disebelah gue, trus gue bales aja "Silahkan ehm sendiri aja ?", gue tanya gitu karena gue engga liat siapa-siapa lagi selain dia. "Iya nih lagi iseng abis boring sih kalo dirumah .!", tuh cewek jawab sambil ngeliat ke gue. Dalem hati gue pikir "Nah ini dia, tadi dicari diluar engga ada ehh..engga taunya malah dapet di dalem". Gue terusin aja nanyanya "Kenapa koq dirumah bisa boring sih ?". "Ya..bosen aja kalo hari libur gini, engga ada kegiatan tuh !", di bilang sambil mulai makan popcorn yang dia bawa. "Eh Mas mau ?", dia nawarin popcorn ke gue."Wah makasih deh nanti aja yah!!", jawab gue. 


"Ooo..iya..nama gue Jimmy, nama elo siapa kalo boleh tau ?", tanya gue. "Nama gue Reny, elo sendiri juga Jim ", tuh cewek nanya lagi ke gue. "Iya abis sama kaya elo, gue juga lagi engga ada acara makanya gue nonton aja ", sahut gue. Akhirnya kita berdua jadi ngobrol panjang lebar sambirl nunggu film maen. Pas film udah maen gue keluarin cocacola kaleng yang gue beli di luar dan berniat utuk membukanya. Entah kenapa tiba-tiba tuh cocacola kaleng muncrat isinya pas gue buka dan airnya menyembur keluar mengenai badan Reny.

Dengan reflek gue keluarin saputangan gue dan langsung ngebersihin air cocacola yang ada dibadan Reny sambil bilang "Waduh sorry berat nih sumpah gue engga sengaja !!". Waktu ngebersihin gue engga sengaja nyenggol teteknya tuh cewek wah ternyata walaupun engga gede-gede amat tapi padet banget. "Engga apa-apa koq Jim kan elu engga sengaja ini !", bales Reny. Berhubung si reny diem aja waktu kesenggol teteknya ya udah gue lama-lamain aja ngbersihin di bagian itu sambil sesekali nyoba ngeremes. "Wah..koq betah ya ", sahut Reny. Sambil belaga bego gue tanya "Betah kenapa ?". "Itu tangan koq malah maenin tetek gue ", kata Reny sambil nahan senyum. "Abis tetek elo ngegemesin sih, sekel banget Ren ?", sahut gue lagi. "Iya dong kalo punya properti tuh kan harus dirawat biar bagus ", kata Reny lagi.

Ditengah filem maen gue iseng nanya gini "Ren dari pada disini mending kita cari tempat aja yuk buat ngobrol ?". Trus si Reny bilang "Ya udah nunggu apa lagi Jim ! Eh elo bawa mobil ?". "Beres ", sambil gue gandeng tangan Reny untuk keluar dari gedung bioskop. Sampe dimobil gue tanya ke dia "So kita mau kemana nih ? Ren ?". "Ya terserah elo aja kan elo yang ngajak !", jawab Reny. Akhirnya gue ajak aja ke hotel yang terdekat yaitu ke hotel Melawai. Singkatnya setelah semua urusan check in selesai dan kita berdua udah sampe kamar, gue tanya lagi sama dia.."Ehm kita mau ngobrol atau mau ngapain nih ?". "Ngapain juga kita disini cuma ngobrol doang Jim kan gue juga tau maunya elo apa .!", Reny bilang gitu sambil ngelepas baju kaos dia dan rok mininya. Wah bodinya lumayan oke juga nih walaupun wajahnya engga begitu cantik sih. Dia pake bra sama cd warna item transparan jadi pentil teteknya dan jembutnya yang engga begitu lebat kelihatan ngebayang.

"Buka dong baju elo Jim trus elo tunggu di tempat tidur, gue mau ke toilet dulu nih ", sambil ngomong gitu dia masuk ketoilet Dalem hati gue ngomong "Sialan nih cewek gue disuruh-suruh nih bikin gue malu aja !". Tapi gue buka aja baju, celana jeans dan cd gue yang pasti kontol gue udah ngaceng nunjuk keatas. Timbul pikiran iseng gue "Si Reny ngapain yah di toilet ah..gue susul aja ", langsung aja gue susul dia ke toilet. Pas pintu gue buka ternyata dia lagi nyebokin memek dia pake shower sambil duduk dipinggiran bak mandi. "Heei ngapain elo masuk Jim bukannya nunggu di kasur .?", dia ngomong gitu sambil sedikit kaget. "Abis elo lama banget sih elo liat dong kontol gue udah ngaceng berat nih .", sambil gue acungin kontol gue ke muka dia. "Hihihihi udah horny yah aduh kasian sini gue jilatin deh .!", sambil dia ngelus-ngelus kontol gue.

"Elo ngapain sih lama bener ?", gue tanya gitu sambil nikmatin elusan tangan dia di kontol gue. "Terus terang Jim gue juga udah horny waktu di bioskop tadi .sampe memek gue basah jadi gue cuci dulu abis tengsin sih .!!!", setelah ngomong gitu dia mulai jilat dan ngelamotin kontol gue. "Uhhh .shhhhh enak Ren .!", gue ngerasa kontol gue anget banget waktu di lamot ama Reny yang sesekali ngegigit gemes kontol gue. Sekitar lima menit Reny ngelamot kontol gue sampe basah banget ama air liurnya, gantian gue yang beraksi. Gue maenin teteknya, pentilnya yang kecil dan berwarna coklat tua gue pelinitr- pelintir trus yang satu lagi gue remes dengan gemes gue liat si Reny merem sambil ngerasain remesan tangan gue.

Setelah beberapa lama gue suruh aja si Reny nungging di dalem bak mandi karena gue mau maen pake dog style. Berhubung nih cewek kayaknya sih perek jadi gue engga mau jilatin memek dia. Waktu dia nungging busyeet..pantat dia bohai banget trus gue elus-elus tuh pantat yang bohai..mulai dari arah pinggang sampe kebagian memeknya yang kalo nungging gitu jadi keliatan jelas semua isi didalemnya, gue mulai ngelus- ngelus jembutnya yang jarang trus kebagian itilnya gue gesek-gesek sambil sesekali gue masukin jari tengah gue ke lobang memeknya yang udah mulai basah. "Ahhhh .uhhhh ..shhhhh .waw Jim .enak Jim ah ..!!", Reny mulai medesah genit keenakan.

Setelah gue rasa udah cukup basah akhirnya gue arahin kontol gue ke lobang memeknya dan perlahan gue dorong maju "Slebbbb .!", kontol gue masuk semua kedalem memek Reny karena memang udah basah jadi engga begitu susah. "Aaawww .asshhh .shit .ouhhh .Jimmy ahhhh!!", Reny menjadi histeris setelah gue gerakin pinggul gue maju mundur perlahan. Rasanya memang nikmat banget apalagi buat gue yang udah kira-kira dua minggu belon tersalurkan nafsu birahi gue. "Shhh oohhhh ..ahhh !!", gue mendesah sambil maju mundurin pinggul gue dan tangan gue maenin pentil teteknya Reny yang juga udah mulai keras. "Ahh uuuhhh .shit Jim gue mau nyampe nih .ahhhhh .duhhhhh .waaaaawww..!!", sambil ngomong gitu si Reny menekan keras pantatnya ke belakang agar batang kontol gue masuk lebih dalem lagi kedalam memeknya.

Gue ngerasa ada cairan hangat yang membasahi batang kontol gue, ternyata si Reny udah orgasme ini ditandai dengan kepalanya mendongak ke atas dan diserati desahannya, "Auuhhh .shhh .Jim .Oufff .shhhhh .!!!". Langsung gue cabut kontol gue dari memeknya dan gue gendong dia menuju ke tempat tidur yang nyaman. Gue rebahin tubuh si Reny diatas tempat tidur dan gue jilatin teteknya yang mantaf punya dengan rakus. Tiba-tiba gue punya ide dan gue langsung bangun dari tempat tidur menuju ke mini bar yang ada disamping tv. Gue buka kulkas dan gue ambil juice jeruk. "Elo koq brenti sih Jim..??", tanya Reny sambil masih celentang di tempat tidur. Gue jawab, "Ada deh mau tau aja !".

Gue balik lagi ketempat tidur dan gue tuangin juice jeruk tersebut ke teteknya, walaupun sampe tumpah ke kasur gue engga peduli. Abis itu gue mulai jilatin teteknya si Reny dengan rakusnya sambil menikmati juice jeruk yang gue tuang tadi. "Ohhhh Jim..geli geli Jim Ahhh .", Reny mulai blingsatan engga karuan sambil jambak rambut gue. Gue terus jilat dan ngelamot teteknya Reny sampe juice jeruk tersebut abis. Dan setelah itu gue buka pahanya lebar-lebar untuk gue sodok dengan kontol gue lagi. "Blessspp..ahhh ..shhh ", gue mulai bergerak naik turun "Slebbb blesss .slebbb blesss ", terdengar bunyi dari memek si Reny yang udah mulai basah lagi. Reny yang udah mulai horny mulai menggerak-gerakkan pinggulnya mengikuti irama gue. Ternyata si Reny emang ahli karena gue ngerasain nikmat yang engga ada duanya, "Wahhh .Ren ahhhh elo hebat Ren shhhhh memek elo bisa nyedot ohhhh ..shhhh", ucap gue keenakan. Gue ngerasa kalo kali ini gue mau nyampe, "Ahh Ren..gue mau keluar nih ". Reny mendorong tubuh gue sambil bilang, "Gue diatas deh..Jim!!".

Gue cabut kontol gue dan gue rebahan menggantikan si Reny yang udah bangun dan langsung nangkring diatas perut gue. Reny mengarahkan kontol gue ke arah lobang memeknya dan menekan kebawah, "Bleeep ahhhh .". Reny kini yang aktif dia bergerak keatas dan kebawah sambil menjambak rambutnya sendiri. Tangan gue yang bebas lansung bermain-main dengan teteknya Reny yang udah engga karuan warnanya abis gue cupangin tadi. "Ahhh duhhh Jim..gila enak bener shhh ouhhhh", Reny sedikit menjerit. Setelah sekitar 15 menit gue ngerasa udah engga tahan lagi untuk orgasme "Ouuuhhfff Ren..gue udah engga tahan nih shhh .", gue cengkram pinggang Reny untuk melampiaskan perasaan nikmat. "Jim kita keluar bareng ahhhh .shhhh ..ouhhhhh..Jimmmmm ..cret creet crooot croot..!!!". Akhirnya kita berdua orgasme bersaaman, nikmat sekali yang gue rasakan saat itu. Setelah menikmati orgasme masing-masing kita tertidur sambil berpelukan.

Kita terbangun malam hari dan langsung berpakaian setelah itu langsung cabut. Ternyata hari libur gue engga sesial yang gue kira, malah gue dapet duren yang udah mateng hahahaha..

Belenggu Rindu Yang Tertahan

Siang itu di sebuah rumah yang cukup asri, seorang gadis yang berambut panjang terurai dengan raut wajah yang manis terlihat sedang menanti kedatangan seseorang. Tiba-tiba datang seorang pemuda yang mengenakan kaos biru di padu dengan jeans warna serupa. 

Dia berjalan menuju kerumah gadis yang sedang asyik duduk di depan rumahnya, si gadis sesekali mengawasi depan rumahnya kalau-kalau yang di tunggu sudah datang atau belum. Dengan senyum yang manis kemudian gadis itu menyapa sang pemuda yang kelihatan rapi, harum dan segar siang itu. "Hallo Mas Adietya sayang..." sapanya dengan panggilan khas yang mesra ke padaku. 
"Hallo juga... Sayang," balasku pendek. "Sudah lama yah nunggunya," lanjutku lagi. 

Antara aku dan si gadis memang terlihat mesra di setiap kesempatan apa aja. Baik itu melalui panggilan ataupun sikap terhadap masing-masing. Seperti halnya siang itu, yang kebetulan keadaan di rumah sang gadis nampaknya sedang sepi, dia bilang ortunya lagi ke rumah saudaranya yang pulangnya nanti sore. 




Dengan masih menyimpan rasa rindu yang tertahan, aku memeluk gadis pujaanku dengan mesra, sambil membisikan kata. "Adiet kangen banget nih sayang," bisikku di telinga nya sambil mencumbu daun telinganya. "aku juga kangen Mas sayang..." jawabnya pelan. 


Kemudian kita terlibat perbincangan sesaat, yang selanjutnya aku merengkuh bahu si gadis dan mengajaknya masuk ke dalam ruangan tamu. Di sofa kita duduk sangat dekat sekali, sampai-sampai kita bisa merasakan hembusan nafas masing-masing, saat kita bertatapan wajah.
"Kamu cantik sekali siang ini sayang..." kataku lembut. 


Sembari tanganku meremas kedua tangannya dan kemudian aku lanjutkan untuk menarik tubuhnya lebih rapat. Si gadis tak menjawab hanya tersipu raut wajahnya, yang di ekspresikan dengan memelukku erat. Tanganku kemudian memegang kedua pipinya dan tak lama bibirku sudah mengulum bibirnya yang terbuka sedikit dan bentuknya yang ranum, sembari dia memejamkan kedua bola matanya. 


Lidahku bermain di rongga mulutnya untuk memberikan perasaan yang membuat nya mendesah sesaat setelahnya. Di balik punggungnya jemari tanganku dengan lembut masuk ke dalam kaos warna putihnya dan mencoba membuka kaitan bra dari belakang punggungnya. Dengan dua kali gerakan, terbukalah kaitan bra hitamnya yang berukuran 36b itu. 


Jemari tanganku langsung mengelus tepian payudaranya yang begitu kenyal dan menggairahkan itu. Dan tak lama setelah itu jariku sudah memilin putingnya yang mulai keras, yang nampaknya dia mulai menikmati dan sudah terangsang diiringi dengan desahannya yang sensual.
"Ohhh... Mas sayang..." desahnya lembut.


Sambil memilin, bibirku tak lepas dari bibirnya dan menyeruak lebih ke dalam yang sesekali mulutku menghisap lidahnya keluar masuk. Selanjutnya dengan gerakan pelan aku membuka kaos putihnya dan langsung mulutku menelusuri payudaranya dan berakhir di putingnya yang menonjol kecil. Aku menjulurkan lidahku tepat di ujung payudaranya, yang membuat dia menggelinjang dan mendesah kembali.
"Ohh... Mas sayang... Enak sekali."
Sesaat aku menghentikan cumbuanku kepadanya dan memegang kedua pipinya kembali sambil membisikkan kata.
"Sayang... Payudara kamu sungguh indah bentukya," bisikku lirih di telinganya. 


Sang gadis hanya mengulum senyumnya yang manis sembari kembali memelukku mesra. Dengan mesra aku mengajak si gadis berjalan ke arah kamarnya yang lumayan besar dan bersih. Layaknya kamar seorang gadis yang tertata rapi dan aroma segar wangi bunga-bunga yang ada ditaman depan kamarnya terhirup olehku saat memasukinya. 


Tak berselang lama kemudian, aku mengangkat tubuh sexy sang gadis dan meletakkannya di atas meja belajar yang ada di kamarnya. Sang gadis masih mengenakan celana jeansnya, kecuali bagian atasnya yang sudah terbuka saat kita berasyik masyuk di ruang tamu. Perlahan aku memeluk tubuh sang gadis kembali, yang aku lanjutkan dengan menjelajahi leher jenjangnya dengan lembut. 


Bibirku mencumbui setiap senti permukaan kulitnya dan berpindah sesaat ketika lidahku mencapai belakang telinganya dan membuat tubuh sang gadis kembali bergetar pelan. Desahan dan getaran tubuhnya menandakan kalau sang gadis sudah sangat terangsang oleh setiap cumbuanku. Tanganku tak tinggal diam sementara bibirku mencumbui setiap titik sensitif yang ada di tubuh sang gadis. 


Jemariku mulai mengarah kebawah menuju celana jeans nya dan tanpa kesulitan aku menurunkan resliting celananya yang nampak olehku pinggiran celana dalam warna hitamnya yang sexy. 

Kemudian aku melemparkan celana jeansnya ke lantai dan seketika tanganku dengan lembut merengkuh bongkahan pantatnya yang padat berisi. Aku mengelus kedua bongkahannya pelan dan sesekali jariku menyelip di antara tepian celana dalamnya yag membuat bibirnya kembali bergetar mendesah lirih. "Oh... Mas sayang..." desahnya parau.
Bibirku yang sejak tadi bermain di atas, kemudian berpindah setelah aku merasakan cukup untuk merangsangnya di bagian itu. Lidahku menjulur lembut ketika mencapai permukaan kulit perutnya yang berakhir di pusarnya dan bermain sejenak yang mengakibatkan tubuhnya menggelinjang kedepan. 


"Ssshhh..." desisnya lirih.
Perlahan kemudian aku mulai menurunkan celana dalamnya dan aku membiarkan menggantung di lututnya yang sexy. Kembali aku melanjutkan cumbuan yang mengarah ke tepian pangkal pahanya dengan lembut dan sesekali aku mendengar sang gadis mendesah lagi. Aku mencium aroma khas setelah lidahku mencapai bukitnya yang berbulu hitam dan lebat sekali, namun cukup terawat terlihat olehku sekilas dari bentuk bulu vaginanya yang menyerupai garis segitiga. 


Dan tak lama lidahku sudah menjilati bibir luar vaginanya dengan memutar ujung lidahku lembut. Kemudian aku lanjutkan dengan menjulurkan lebih ke dalam lagi untuk mencapai bibir dalamnya yang sudah sangat basah oleh lendir kenikmatan yang di keluarkan dari lubang vaginanya. Tubuh sang gadis mengelinjang perlahan bersamaan dengan tersentuhnya benjolan kecil di atas vagina miliknya oleh ujung lidahku. "Ohhh... Mas sayang" jeritnya tertahan.
"Aku nggak kuat Mas..." tambahnya lirih.
Yang aku lanjutkan dengan menghentikan tindakanku sesaat. Aku menurunkan tubuh sang gadis dari atas meja, kemudian aku berdiri tepat di hadapanya yang sudah berjongkok sambil menatap penisku yang sudah berdiri tegang sekali. 


Dengan gerakan lincah bibir sang gadis langsung mengulum kepala penisku dengan lembut dan memutar lidahnya di dalam mulutnya yang mungil dan memilin kepala penisku yang mengkilat. Tubuhku bergetar hebat ketika menerima semua gerakan erotis mulai dari jemari tangannya yang lembut mengelus batang penisku serta bibir dan lidahnya yang lincah menelusuri buah zakarku.
"Ohhh... Sayang" desahku pelan.


Rambutnya yang hitam panjang ku remas sebagai expresi dari kenikmatan yang mengalir di sekujur tubuhku. Setelah beberapa saat sang gadis menjelajahi organ sensitifku, aku merengkuh bahunya serta memintanya berdiri dan kembali aku mendudukkan pantatnya yang padat berisi di tepian meja sementara salah satu kaki jenjangnya menjuntai ke lantai.


Dengan gerakan lembut aku mengangkat paha kirinya dan bertumpu pada lenganku, di saat selanjutnya tangan kiriku memegang batang penisku yang sudah sangat tegang sekali menahan rangsangan yang menggelora dan mengarahkannya tepat di bibir vaginanya yang sudah basah oleh lendir birahi. Pada saat bersamaan ujung telunjukku juga mengelus belahan antara anus dan bibir bawah vaginyanya.


"Oh... Mas sayang... Please... Aku enggak kuat" jeritnya lirih.
Aku masih belum merespon atas jeritan lirihnya, sebaliknya aku menundukkan kepala untuk kembali menjilati kedua payudaranya bergantian dan berakhir di puting payudara yang sebelah kiri. Gerakanku membuatnya menggelinjang dan semakin keras desahannya terdengar.


"Ohhh... Mas sayang... Sekarang yah" pintanya lirih, dengan mata yang sayup penuh nafsu.
Perlahan aku mengarahkan batang penisku tepat di belahan vaginanya dan mendorongnya lembut.
"Sleppp..." irama yang di timbulkan ketika penisku sudah menyeruak bibir vaginanya.
Kembali bibir sang gadis mengeluarkan desahan sexynya.
"Hekkk... Mmm..." gumamnya lirih. 


Setengah dari batang penisku sudah masuk ke dalam vaginanya, yang aku padukan dengan gerakan bibirku mengulum bibirnya yang ranum serta memilin dan memutar ujung lidahnya lembut. Untuk menambah kenikmatan buat dirinya, aku mulai memajukan sedikit demi sedikit sisa batang penisku ke rongga vaginanya yang paling dalam dan aku mengarahkan ujung penisku menyentuh G-spotnya. Mulut sang gadis menggumam lirih karena mulutku juga masih mengulum bibirnya.
"Mmm... Mmm" gumamnya. 


Sambil menahan nikmat, tangan sang gadis menyentuh buah zakarku dan memijitnya lembut yang membuat tubuhku ikut mengelinjang menahan kenikmatan yang sama. Pinggulku membuat gerakan maju mundur untuk kesekian kalinya dan sepertinya sang gadis akan mendapatkan orgasme pertamanya ditandai dengan gerakan tangannya yang merengkuh bahuku erat dan menggigit bibir bawahnya lirih.
"Ohhh... Mas sayanggg..." jeritnya bergetar.
Bersamaan dengan aliran hangat yang kurasakan di dalam, rongga vaginanya menjepit erat batang penisku. Tangannya merengkuh bongkahan pantatku serta menariknya lebih erat lagi. Tak lama berselang sang gadis kemudian tersenyum manis dan mengecup bibirku kembali sambil mengucapkan kata. 


"Thanks yah... Mas sayang"ucapnya mesra.
Aku membalasnya dengan memberikan senyum dan mengatakan.
"Aku bahagia... kalau sayang bisa menikmati semua ini" ucapku kemudian.
Hanya beberapa saat setelah sang gadis mendapatkan orgasmenya, aku membalikkan tubuhnya membelakangiku sembari kedua tanganya berpegang pada pingiran meja. Dengan pelan kutarik pinggangnya sambil memintanya menunduk, maka nampaklah di depanku bongkahan pantatnya yang sexy dengan belahan vaginanya yang menggairahkan. 


Perlahan aku memajukan tubuhku sambil memegang batang penisku dan mengarahkannya tepat di bibir vaginanya, sementara kaki kananku mengeser kaki kanannya untuk membuka pahanya sedikit melebar. Dengan gerakan mantap penisku menyeruak sedikit demi sedikit membelah vaginanya lembut. 


"Sleppp..." masuklah setengah batang penisku ke dalam rongga vaginanya.
"Sss..." sang gadis mendesah menerima desakan penisku.
Tanganku perlahan meremas payudaranya dari belakang mulai dari yang sebelah kiri dan dilanjutkan dengan yang sebelah kanan secara bergantian. Sementara pinggulku memulai gerakan maju mundur untuk kembali menyeruak rongga vaginanya lebih dalam.
Posisi ini menimbulkan sensasi tersendiri dimana seluruh batang penisku dapat menyentuh G-spotnya, sementara tanganku dengan bebas menjelajahi seluruh organ sensitifnya mulai dari kedua payudara berikut putingnya dan belahan anus dan bagian tubuh lainnya.
"Ohhh... Mas sayang" desahnya.


Ketika ujung jemariku menyentuh lubang anusnya sambil aku berkonsentrasi memaju mundurkan penisku. Setelah cukup beberapa saat aku menggerakan pinggulku memompa belahan vaginanya. Dengan gerakan lembut aku menarik wajahnya mendekat, masih dalam posisi membelakangiku aku mengulum bibirnya dan meremas kedua payudaranya lembut.
"Sayang aku mau keluar nih," bisiku lirih. "Ohhh... Mas sayang aku juga mau" sahutnya pelan.
Aku mempercepat gerakanku memompa vaginanya dari belakang tanpa melepas ciumanku di bibirnya dan remasan ku di kedua payudaranya. Pada saat terakhir aku mencengkeram kedua pinggulnya erat dan memajukan penisku lebih dalam.


"Creeettt... Ohhh... Sayang," jeritku kemudian.
Menyemburlah spermaku yang cukup banyak ke dalam rongga vaginanya dan beberapa tetes meleleh keluar mengalir di kedua pahanya. Untuk beberapa saat aku mendiamkan kejadian ini sampai akhirnya penisku mengecil dengan sendirinya di dalam vaginanya yang telah memberikan kenikmatan yang tak bisa aku ungkapkan. 


Demikianlah rasa rinduku terhadap kekasihku setelah beberapa lamanya tidak saling bertemu.

Cerita Tentang Lia

Jam 20:30 Aku dan Lia sudah berada dalam pesawat. Aku duduk di sebelah jendela, Lia ditengah dan kursi sebelah kanannya nampak kosong. Beberapa menit sesudahnya terdengar suara pesawat meluncur di landasan.

Aku dan Lia adalah sahabat lama. Hubungan antara kami sebenarnya tidak bisa dikatakan kekasih. Namun meski statusnya sahabat tapi sikap dan perilaku hubungan kami sangat mesra seperti sepasang kekasih.

Akhirnya lampu kabin pesawat dimatikan aku dan Lia pun siap-siap untuk tidur. Lia bersandar dipundakku dan dia menaikkan kakinya dikursi sebelah. Karena posisinya kurang enak, aku menaikkan sandaran lengan kursiku sehingga Lia bisa dengan bebas menyandarkan kepalanya dipahaku. Baru sebentar memejamkan mata, tiba-tiba gadis itu terbangun, kemudian membuka jaketnya dan kembali merebahkan kepalanya.

Aku menghela nafas setelah Lia memejamkan matanya kembali. Huh… untung saja tidak ketahuan tadi kalau sebenarnya sempat terbersit lamunan jorok di otakku dikarenakan menatap wajahnya yang cantik. Gadis itu baik memakai kacamata atau tidak namun wajahnya memang cantik. Kulitnya putih pucat, namun karena pucat itulah membuat gairahku berdesir setiap kali bertatap muka dengannya.

Awal Sebuah Ketulusan

Pada mulanya aku tidak begitu tertarik dengan namanya chatting. Tetapi lama kelamaan aku jadi ketagihan dan setiap hari aku selalu meluangkan waktu Untuk beberapa saat lamanya sembari mengerjakan tugas harian di kantor. Baik itu melalui MIRC ataupun di YM. Dan mulai dari sinilah aku mulai mengenal apa itu dunia cyber. Suatu hari aku chatting dengan menggunakan nickname Jingga yang kebetulan aku suka banget dengan warna purple.

Hingga sampailah aku di pertemukan dengan cewek yang berumur 17 tahun yang mempunyai nama asli Adinda. Adinda yang masih berstatus pelajar di salah satu SMU negeri di Jakarta dan tinggal di sekitar Jakarta Barat. Dengan paras yang cantik serta bentuk tubuh yang sexy di dukung penampilannya yang selalu mengenakan rok abu-abunya di atas lutut. Menjadikan dirinya patut untuk di kagumi oleh setiap lelaki. Apalagi dengan hem putihnya yang sedikit transparan setiap Adinda berangkat ke sekolah. Begitu menerawang terbentuk segaris Bra 36 warna hitam kesukaannya menjadikan setiap mata yang memandangnya tak akan berkedip sedetikpun
.

Adinda adalah anak tunggal dari keluarga yang cukup terpandang di Jakarta. Kesibukan papanya sebagai seorang pengusaha, menjadikan Adinda selalu merasa kesepian. Demikian juga dengan Mamanya yang selalu sibuk dengan urusan arisan, shopping, senam, salon dan banyak lagi kesibukan yang datang tak pernah habisnya. Karena merasa kesepian setiap pulang dari sekolah ataupun saat libur sekolah, menjadikan Adinda tumbuh tanpa seorang figur dari keluarganya. Kalau melihat kepribadiannya Adinda sebenarnya mempunyai kepribadian yang periang dan ramah.Semua itu bisa di lihat dengan kesehariannya yang selalu tersenyum kepada semua orang yang di jumpainya. 



Demikian juga saat bertemu denganku lewat Chatting. Setiap perjumpaan selalu diakhiri dengan kesan yang baik, bagaimanapun juga aku sangat menghargai. Kejujurannya yang menceritakan masalah keluarganya yang super sibuk dan mantan cowoknya yang berpaling darinya, karena tidak bisa bersabar menghadapi Adinda yang belakangan menjadi pemurung. Sifatnya yang pemurung itu disebabkan oleh suasana keluarganya yang mulai tidak harmonis lagi dan menjadikan sosok Adinda menjadi minder di sekolahnya.
Hingga pada satu kesempatan dia memutuskan ingin bertemu secara langsung denganku. Hari itu setelah kita chatting beberapa saat, tiba-tiba dia menangis dan butuh teman untuk curhat secara langsung dan alasannya, karena dia sudah akrab dan percaya kepadaku.


Setelah menentukan tempat yang cukup aman, sejuk udaranya dan tidak bising akhirnya aku sepakat menemuinya. Dengan perasaan deg-degan, sepanjang perjalanan aku berpikir ada masalah apa dengan Adinda. Dan pikiranku terasa semakin amburadul ketika aku benar-benar ketemu dengannya.
Sesaat Aku terkagum-kagum melihat penampilannya hari itu. Berbeda dengan kesehariannya yang selalu mengenakan seragam sekolah. Hari itu Adinda mengenakan stelan celana jeans agak belel warna biru di padu dengan kaos putih ketat yang menonjol di bagian dadanya. Rambut panjangnya di biarkannya tergerai menyentuh bahunya melewati leher jenjangnya yang putih bersih.
Dari penampilannya yang mengagumkan aku sempat menelan ludah sesaat. Adinda adalah sosok cewek idolaku. Mulai dari wajahnya, dadanya, pinggulnya dan lekukan Pantatnya yang sexy tecetak jelas di celananya yang ketat juga. Membuat aku menelan terdiam sesaat, sambil membayangkan bagaimana jika aku bisa bercinta dengan dia.


Di sebuah cafe yang suasananya pada siang itu tidak begitu ramai, dengan hanya beberapa pengunjung, menjadikan pertemuanku dengan nya akan sangat berkesan tentunya. Selama pembicaraan di cafe, jantungku berdetak kencang setiap melirik paras Adinda yang cantik dan manis sekali dan aku membayangkan jika aku dapat menikmati bibirnya yang merekah. Untuk menghilangkan rasa cemasku, aku berusaha membuka pembicaraan dengan menanyakan bagaimana kesannya setelah bertemu dan ada masalah apa sampai dia memintaku datang menemuinya. 


Pertemuan itu sebenarnya hanya sekedar alasannya aja agar bisa ngobrol denganku dan mengenal lebih dekat siapa diriku sebenarnya. Hal itu aku ketahui setelah kami terlibat perbincangan serius di cafe dan dia berterima kasih, kalau selama ini aku bisa dengan penuh kesabaran mendengarkan semua masalah yang di hadapinya. 


"Diet... Boleh aku mengatakan sesuatu?" tanya Adinda tiba-tiba.
"Boleh... Ada apa emangnya?" tanyaku balik.
"Aku mulai merasakan semua kasih sayang kamu selama ini," jawabnya.
"Dan aku juga ingin memberikan hal yang sama buat kamu," lanjutnya.
Aku hanya bisa terdiam mendengar semua penjelasannya, dengan lembut aku memeluk tubuhnya untuk meyakinkan bahwa semua yang kulakukan tulus adanya. Dan dengan pelan aku genggam jemari tangannya yang halus serta aku pegang dagunya dengan lembut bibirku menyentuh bibirnya yang terbuka sedikit. Yang tak lama aku telah menciumi leher Adinda yang terlihat sangat bersih dan putih.
"Adinda aku sayang kamu...," bisikku di telinganya lirih.
Adinda semakin erat memelukku sebagai ungkapan kebahagiaannya atas sikapku. Setelah perbincangan di cafe selesai, Adinda mengajakku untuk bersantai sejenak sambil beristirahat dengan memesan sebuah kamar di sebuah hotel yang tak jauh letaknya dari cafe tersebut.
"Diet... Ohhh..," desah Adinda ketika aku mencumbu lehernya setelah kita sampai di kamar. Lidahku semakin nakal menjelajahi leher Adinda yang jenjang.
"Akhhh Diet..." tanpa terasa tanganku mulai nakal untuk menggerayangi payudara Adinda yang aku rasakan mulai mengencang mengikuti jilatan lidahku dibalik telinganya.
"Ooohh... Diet..." desahnya lirih. 


Adinda mulai terangang ketika ujung lidahku menjilati bukit payudaranya yang berukuran 36 itu. Aku semakin berani untuk melakukan yang Iebih jauh... Dengan meremas payudara yang satunya.
"Adinda... Sayang, aku buka baju kamu yah..."? bisiku di telinganya.
Adinda hanya mengikuti pergerakan tanganku untuk melepaskan pakaiannya, sampai akhirnya dia hanya mengenakan Bra warna hitam. Dadaku semakin naik turun, ketika pundaknya yang putih nampak dengan jelas di depanku. 


Setelah terbuka, kembali aku mengulum bibirnya yang merekah. Lidahku menjelajahi rongga di langit-langit mulutnya dan sesekali menghisap lidah Adinda yang mulai terangsang dengan ciumanku. Tanganku yang nakal mulai melepas Bra warna hitam miliknya. Dan... Wow... Tersembullah puting yang kencang... Tanpa pikir panjang aku melepas lumatan di bibir Adinda untuk kemudian mulai menjilati puting Adinda yang berwarna kecoklatan. Satu dua kali hisapan membuat putingnya berdiri dengan kencang... Sedangkan tangan kananku memilin puting yang lainnya.
"Ooohhh Diet... Enak sekali sayang...," rintih Adinda. 


Dan saat aku mulai menegang... Adinda berusaha bangkit dari tempat tidur, tapi aku tidak memberikan kesempatan Adinda untuk bangkit dari pinggir ranjang. Parfum Adinda yang harum menambah gairah aku untuk semakin berani menjelajahi seluruh tubuhnya. 


Aku beranikan diri untuk mulai membuka celana jeans serta CD hitam berenda yang dipakainya. Dan darahku mendesir saat melihat gundukan yang ditumbuhi dengan rambut yang hitam lebat. Tanpa berpikir panjang, aku langsung menjilati, menghisap dan sesekali memasukkan lidahku ke dalam lubang vagina Adinda. 


"Oohhh... Diet... Nikmat... Sayang," Adinda merintih kenikmatan setiap lidahku menghujam lubang kewanitaannya.
"Akhhh... Kamu pintar sekali sayaaang..." Desah Adinda disaat jilatanku semakin cepat, Adinda sudah mulai memperlihatkan tanda-tanda mau orgasme dan sesaat kemudian...
"Masss Adiet... Sayang... Aku nggak tahan... Oohh... Masss aku mau..." Adinda menggelinjang hebat sambil menjepit kedua pahanya sehingga kepalaku terasa semakin terbenam di selangkangannya.
"Maaasss... Ookkhhh... Aakuu keluaarrr..." Jeritnya lirih. 


Adinda merintih panjang saat mencapai orgasmenya yang pertama, dia tersenyum puas. Aku biarkan dia terlentang menikmati orgasmenya, sambil membuka semua pakaian yang aku kenakan. Aku memperhatikan Adinda begitu puas dengan pemanasan tadi, itu terlihat dari raut wajahnya yang begitu berbinar-binar.
Tanpa memberi waktu panjang, aku segera menghampiri tubuhnya yang masih lemas dan menarik pinggulnya dipinggir ranjang, dan tanpa pikir panjang penisku yang berukuran lumayan besar, langsung menghujam celah kenikmatan Adinda sembari bibirku mengulum payudaranya.
"Aaakhhh... Diet...," desah Adinda, saat penisku melesak ke dalam lubang vaginanya.
"Diet... Penis kamu ohhh..." desahnya kemudian. 


Aku merasakan setiap jepitan bibir vaginanya yang begitu ketat, sampai terasa begitu nikmat lubang senggama Adinda. Aku berpacu dengan nafsu, keringatku bercucuran seperti mandi dan menetes diwajah Adinda yang pertama kalinya merasakan nikmatnya bercinta. Setiap gerakan maju mundur penisku, selalu membuat tubuh Adinda menggelinjang hebat karena dia mulai bisa merasakan dan menikmati permainan ini. 


"Diet... Sudah... Sayang... Akhh..." sembari berteriak panjang aku rasakan denyutan bibir vagina Adinda menjepit batang penisku. 


Dan aku rasakan cairan hangat mulai meleleh dari vagina Adinda. Aku tidak mempedulikan desahan Adinda yang semakin menjadi, aku hanya berusaha memasukkan penisku lebih dalam lagi. Tiba-tiba Adinda mendekap tubuhku erat dan aku tahu itu tanda dia mencapai orgasme yang kedua kalinya.
Penisku bergerak keluar masuk dengan cepat dan.. Sesaat kemudian. 


"Diet... Aku... Mau... Keluarr lagi... Aaakkk... Sayang, aku... Nggak tahan..."
Seiring jeritan itu, aku merasakan cairan hangat kembali meleleh disepanjang batang penisku.
"Aaakhhh... Sayang... Enak sekali... Ooohh...," rintih Adinda lirih. 


Bagaikan orang mandi, keringatku kembali berkucuran, diatas tubuh Adinda. Disaat aku mulai mencapai klimaks, aku meminta Adinda berganti posisi diatas. 


"Adinda... Sayang kamu diatas yah..."Pintaku
Aku melepas penisku dan langsung terlentang. Adinda bangkit dan langsung menancapkan penisku dalam-dalam di lubang kewanitaannya.
"Akhhh gila, penis kamu enak banget Maaas.. Ooohhh..." Adinda merintih sambil terus menggoyangkan pinggulnya. 


"Aduhhh enak Diet..." desahnya lagi.
Goyangan pinggul Adinda membuat gelitikan halus di penisku...
"Adinda... Sayang... Akh..," aku mengerang kenikmatan saat Adinda menggoyang pinggulnya.
"Diet... Aku mau keluar nih...," sambil merintih panjang, Adinda menekankan dalam-dalam
Tubuhnya hingga penisku amblas ditelan vaginanya dan bersamaan dengan itu aku sudah mulai merasakan tanda-tanda akan mencapai orgasme.
"Aaahhh... Ahh... Ohhh," teriakku 


"Crottt..." bersamaan dengan menyemburnya spermaku. Aku biarkan spermaku menyembur di dalam vaginanya. Sebagian dari spermaku langsung meleleh di sekujur pahanya yang mulus.
Setelah itu Adinda berjalan menuju ke kamar mandi untuk segera mencuci spermaku yang baru keluar dari vaginanya. Permainan itu berakhir dengan penuh kenikmatan dalam diri kami berdua, karena baru pertama kalinya Adinda bercinta denganku, dia mengalami multi orgasme yang tidak bisa digambarkan dengan kata-kata. 


"Diet... Kapan kamu ada waktu lagi untuk melakukan semua ini sayang," tanya Adinda.
Aku menjawab lirih, "Terserah Kamu deh, aku akan selalu sediakan waktu untuk kamu."
"Makasih sayang... Kamu telah memberikan apa yang selama ini belum aku rasakan," kata Adinda.
Kemudian aku mengecup kembali Bibirnya yang merekah sebagai tanda kasih sayangku kepada Adinda yang tulus.